Cari Blog Ini

Minggu, 15 Maret 2026

Refleksi Iman

Kebangkitan Kristus; Kebangkitan Orang-orang Kudus (1 Korintus 15:20-34)

Pada bagian ini Rasul Paulus meneguhkan kebenaran mengenai kebangkitan dari antara orang mati, kematian yang kudus, kematian di dalam Kristus,

I. Mengenai kebangkitan Kristus.

1. Karena Kristus benar-benar yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal (ay. 20). Ia telah benar-benar membangkitkan diri-Nya sendiri, dan Ia telah bangkit dengan ciri dan sifat yang sama, sebagai yang sulung dari orang-orang yang meninggal di dalam Dia. Sebagaimana Ia pasti telah bangkit, maka di dalam kebangkitan-Nya terdapat jaminan yang sebenar-benarnya bahwa orang-orang yang telah meninggal di dalam Dia akan bangkit seperti halnya tuaian bangsa Yahudi dahulu diterima dan diberkati melalui persembahan dan penerimaan buah-buah sulung. Sama seperti seluruh adonan juga dibuat kudus oleh pentahbisan roti sulung (Rm. 11:16), begitu juga tubuh Kristus secara keseluruhan, semua orang yang oleh iman telah dipersatukan kepada-Nya, dijamin kebangkitannya oleh ke bangkitan Kristus. Sebagaimana Ia telah bangkit, mereka juga akan bangkit, sama seperti adonan itu kudus karena roti sulung yang juga kudus. Ia tidak bangkit hanya untuk diri-Nya sendiri, tetapi bangkit sebagai kepala untuk tubuh, yaitu jemaat-Nya. Dan mereka yang telah meninggal dalam Yesus akan dikumpulkan Allah bersama-sama dengan Dia (1Tes. 4:14). Perhatikanlah, kebangkitan Kristus merupakan janji dan jaminan bagi kita, jika kita sungguh-sungguh percaya kepada-Nya. Karena Dia telah bangkit, kita juga akan dibangkitkan. Kita menjadi bagian dari adonan yang ditahbiskan, dan akan turut mengambil bagian dalam penerimaan dan perkenanan yang dikaruniakan kepada buah-buah sulung. Ini adalah alasan pertama yang digunakan oleh Rasul Paulus untuk menegaskan kebenaran ini, dan hal ini,

2. Digambarkan melalui sebuah perbandingan antara Adam yang pertama dan yang kedua. Sebab sama seperti maut datang oleh satu orang manusia, maka pantas jugalah kalau oleh satu orang manusia datang pula kelepasan dari maut itu, atau kebangkitan orang mati (ay. 21). Jadi, sebab sama seperti dalam persekutuan dengan Adam semua orang mati, demikian pula dalam persekutuan dengan Kristus semua orang akan dihidupkan kembali. Sebagaimana melalui dosa Adam yang pertama manusia mengalami kematian karena semuanya menerima tabiat dosa yang sama darinya, demikian jugalah melalui jasa dan kebangkitan Kristus semuanya memperoleh bagian di dalam Roh dan tabiat rohaniah-Nya, dihidupkan kembali dan memperoleh hidup yang kekal. Semua orang yang mati, mati karena dosa Adam. Menurut pengertian Rasul Paulus, semua orang yang dibangkitkan, dibangkitkan melalui jasa dan kuasa Kristus. Tetapi maksudnya tidaklah bahwa sebagaimana semua orang mati di dalam Adam, maka semua orang, tanpa kecuali, akan dihidupkan di dalam Kristus. Penjelasan Rasul Paulus membatasi makna umum seperti ini. Kristus bangkit sebagai buah sulung, maka semua orang yang menjadi milik-Nya (ay. 23) akan dibangkitkan juga. Oleh karena itu, ini tidak berarti bahwa semua orang akan dibangkitkan tanpa kecuali, melainkan tepatnya semua orang yang bangkit, dibangkitkan karena jasa kebangkitan Kristus, sehingga kebangkitan mereka itu disebabkan oleh manusia Kristus Yesus, sebagaimana kematian semua orang disebabkan oleh manusia yang pertama. Jadi, seperti oleh manusia masuk kematian, oleh manusia pula datang pembebasan. Dengan demikian sesuailah dengan hikmat ilahi bahwa sebagaimana Adam yang pertama menghancurkan keturunannya karena dosa, Adam yang kedua akan membangkitkan keturunan-Nya kepada kekekalan yang mulia.

3. Sebelum ia menyudahi pembahasannya, ia menyatakan bahwa akan ada urutan kebangkitan yang dapat diamati. Bagaimana tepatnya urutan itu tidak disebutkan di sini, namun dikatakan bahwa secara umum akan ada urutan. Mungkin orang-orang yang lebih dahulu dibangkitkan adalah mereka yang memiliki peringkat tertinggi dan telah melakukan pelayanan yang paling unggul, atau menanggung penderitaan kejam yang paling memilukan, atau mengalami kematian akibat penganiayaan yang mengerikan, bagi kepentingan Kristus. Di sini hanya dikatakan bahwa Kristus sebagai buah sulung akan dibangkitkan terlebih dahulu, dan sesudah itu mereka yang menjadi milik-Nya pada waktu kedatangan-Nya. Tidaklah berarti bahwa kebangkitan Kristus harus terjadi sebelum kebangkitan umat-Nya, supaya kebangkitan-Nya itu diletakkan sebagai dasar. Sama seperti orang-orang yang tinggal jauh dari Yerusalem tidak perlu pergi ke sana dan mempersembahkan buah-buah sulung itu, sebelum mereka dapat menganggap adonan itu kudus. Untuk menguduskan semuanya, mereka hanya perlu memisahkan dan mengkhususkan buah-buah sulung itu sampai buah-buah itu dapat dipersembahkan, yang dapat dilakukan kapan saja sejak saat hari raya Pentakosta sampai hari raya Pentahbisan Bait Suci. (Lihat penafsiran Uskup Agung Patrick atas Bil. 24:2). Persembahan buah-buah sulung inilah yang menguduskan adonan. Dengan demikian adonan itu menjadi kudus karena persembahan itu, walaupun persembahan itu dilakukan sebelum hasil tuaian dikumpulkan, hanya perlu disisihkan untuk maksud persembahan itu, dan kemudian dipersembahkan sebagaimana mestinya. Jadi, sesuai sifatnya kebangkitan Kristus harus mendahului kebangkitan orang-orang kudus-Nya, walaupun ada beberapa di antaranya yang mungkin telah bangkit terlebih dahulu sebelum Dia. Karena Ia telah bangkit, maka mereka bangkit. Perhatikanlah, orang orang yang menjadi milik Kristus harus dibangkitkan karena hubungan mereka dengan Dia.

II. Rasul Paulus memberikan alasan dengan melihat keberlangsungan dari kerajaan Sang Pengantara, yaitu yang berlangsung sampai semua musuh-musuh-Nya dihancurkan, dan yang terakhir dibinasakan ialah maut (ay. 24-26). Kristus telah bangkit, dan saat kebangkitan-Nya, Ia dipercayakan dengan kerajaan yang berdaulat, yang kepada-Nya telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi (Mat. 28:18), dan dikaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya setiap lutut akan bertekuk di hadapan-Nya, dan setiap lidah mengaku bahwa Dia adalah Tuhan (Flp. 2:9-11). Dan pemerintahan kerajaan ini akan tetap dipegang-Nya sampai semua pemerintahan, kekuasaan, dan kekuatan musuh dibinasakan (ay. 24), sampai semua musuh-Nya diletakkan di bawah kaki-Nya (ay. 25), dan sampai musuh yang terakhir dibinasakan, yaitu maut (ay. 26).

1. Alasan ini menyiratkan semua hal-hal khusus sebagai berikut:

(1) Bahwa Juruselamat kita bangkit dari kematian untuk memperoleh semua kuasa di tangan-Nya dan memegang pemerintahan suatu kerajaan, sebagai Pengantara: Sebab untuk itulah Kristus telah mati dan hidup kembali, supaya Ia menjadi Tuhan, baik atas orang-orang mati, maupun atas orang-orang hidup (Rm. 14:9).

(2) Bahwa kerajaan pengantaraan ini akan berakhir setidaknya sampai dapat membawa umat-Nya dengan selamat menuju kemuliaan dan menaklukkan semua musuh-Nya dan musuh-musuh umat-Nya: Kemudian tibalah kesudahannya (ay. 24).

(3) Bahwa kerajaan itu akan tetap berlanjut sampai segala kekuasaan musuh dibinasakan dan semua musuh diletakkan di bawah kaki-Nya (ay. 24-25).

(4) Bahwa di antara semua musuh-Nya, maut harus dibinasakan (ay. 26) atau dimusnahkan, kuasa maut atas umat-Nya harus ditiadakan. Sampai sejauh itulah Rasul Paulus memberikan pernyataannya secara jelas, tetapi ia meninggalkan kita untuk menyimpulkan sendiri bahwa orang-orang kudus harus bangkit, kalau tidak maut dan kubur akan berkuasa atas mereka, juga kuasa kerajaan Juruselamat kita tidak akan dapat mengalahkan musuh terakhir umat-Nya dan membatalkan kuasanya. Ketika orang-orang kudus hidup kembali dan tidak dapat mati lagi, maka pada saat itulah maut akan ditiadakan, yang harus terjadi sebelum kerajaan pengantaraan dari Juruselamat kita itu diserahkan kepada Allah Bapa, yang harus terjadi tepat pada waktunya. Oleh karena itu, orang-orang kudus akan hidup kembali dan tidak dapat mati lagi. Inilah tujuan dari penjelasan yang diberikan Rasul Paulus. Akan tetapi,

2. Rasul Paulus menyampaikan beberapa petunjuk yang patut diperhatikan, seperti,

(1) Bahwa Juruselamat kita, sebagai manusia dan sebagai pengantara antara Allah dan manusia memiliki kuasa rajawi yang dipercayakan kepada-Nya, yaitu sebuah kerajaan: Segala sesuatu telah ditaklukkan-Nya di bawah kaki-Nya, Ia sendiri yang telah menaklukkan segala sesuatu di bawah kaki-Nya (ay. 27). Sebagai manusia, segala kuasa-Nya harus diperoleh dari pelimpahan kuasa. Dan walaupun tugas pengantaraan-Nya itu mengharuskan adanya kodrat ilahi-Nya, namun sebagai Pengantara tidak begitu jelas Ia memiliki sifat-sifat Allah. Ia bertindak sebagai seorang pribadi yang berdiri di antara Allah dan manusia, memiliki kedua sifat itu, manusiawi dan ilahi, sebab Ia harus mendamaikan kedua belah pihak, Allah dan manusia. Ia menerima penugasan dan kuasa dari Allah Bapa untuk bertindak dalam jabatan ini. Sang Bapa tampil di dalam seluruh masa penyelenggaraan ini, dalam keagungan dan kuasa Allah: sedangkan Sang Anak, yang menjadi manusia, tampil sebagai pelayan Bapa, walaupun Ia sendiri adalah Allah sama seperti Bapa. Bagian ini juga tidak boleh dipahami bahwa Ia memiliki kekuasaan kekal atas semua makhluk, karena kekuasaan demikian adalah kekuasaan-Nya sebagai Allah. Jadi bagian ini harus dimengerti sebagai berbicara mengenai suatu kerajaan yang dipercayakan kepada-Nya sebagai Pengantara dan manusia-Allah. Bagian ini juga menyatakan bahwa terutama sesudah kebangkitan-Nya, ketika Ia telah memperoleh kemenangan, Ia akan duduk bersama sama Bapa di atas takhta-Nya (Why. 3:21). Pada saat itulah nubuat itu digenapi, Akulah yang telah melantik raja-Ku di Sion, gunung-Ku yang kudus (Mzm. 2:6), mendudukkan-Nya di atas takhta-Nya. Inilah yang dimaksudkan oleh ungkapan yang begitu sering disebutkan di dalam tulisan-tulisan Perjanjian Baru, yaitu tentang duduk di sebelah kanan Allah (Mrk. 16:19; Rm. 8:34; Kol. 3:1, dst.), duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa (Mrk. 14:62; Luk. 22:69), du-duk di sebelah kanan takhta Allah (Ibr. 12:2), duduk di sebelah kanan takhta Yang Mahabesar di sorga (Ibr. 8:1). Duduk di atas takhta ini berarti Ia menjalankan kuasa pengantaraan dan kerajaan-Nya, yang dilaksanakan pada saat Ia naik ke sorga (Mrk. 16:19). Hal ini dibicarakan di dalam Kitab Suci untuk meninggikan Dia sebagai upah atas kehinaan-Nya yang mendalam dan kerendahan diri-Nya dalam menjadi manusia, serta mati bagi manusia di atas kayu salib yang terkutuk itu (Flp. 2:6-12). Pada saat naik ke sorga, Dia telah diberikan kepada jemaat sebagai Kepala atas segala yang ada, diberi kuasa untuk memerintah dan melindungi jemaat terhadap semua musuhnya, dan pada akhirnya membinasakan semua musuh itu dan menyempurnakan keselamatan bagi semua orang yang percaya kepada-Nya. Kuasa ini bukanlah kuasa yang berkaitan dengan diri-Nya sebagai salah satu pribadi Allah. Ini bukanlah kuasa tidak terbatas yang dimiliki-Nya dari awal mula, melainkan kuasa yang dilimpahkan kepada-Nya dan terbatas untuk tujuan khusus. Walaupun Kristus yang memiliki kuasa itu adalah Allah, namun di dalam masa penyelenggaraan ini Ia tidak bertindak sebagai Allah tetapi sebagai Pengantara, Ia menjadi sedikit berbeda dengan Allah. Ia bertindak bukan sebagai Yang Mahabesar yang telah dirugikan, melainkan sebagai pribadi yang membela makhluk-makhluk-Nya yang bersalah. Ia melakukan hal ini atas persetujuan-Nya sendiri dan berdasarkan tugas yang diberikan kepada-Nya, dan Ia selalu bertindak dan tampil dalam sifat-sifat seperti itu. Karena itu, lebih tepat kalau dikatakan bahwa kuasa itu dikaruniakan kepada-Nya. Dapat saja Ia memerintah sebagai Allah dengan kekuasaan yang tidak terbatas, namun sekarang Ia memerintah sebagai Pengantara, dengan kuasa yang dilimpahkan kepada-Nya, dan terbatas untuk tujuan khusus ini.

(2) Bahwa kuasa kerajaan yang dilimpahkan kepada-Nya pada kesudahannya harus diserahkan kembali kepada Bapa, yang telah melimpahkan kepada-Nya (ay. 24). Sebab kuasa itu diterima untuk melaksanakan tujuan dan maksud yang khusus, yaitu kuasa untuk memerintah dan melindungi jemaat-Nya sampai semua anggota jemaat dikumpulkan dan semua musuh jemaat dikalahkan dan dihancurkan selama-lamanya (ay. 25-26). Ketika semua tujuan ini telah dicapai maka wewenang dan kuasa ini tidak perlu dilanjutkan lagi. Sang Penebus harus memerintah sampai musuh-musuh-Nya dihancurkan serta keselamatan jemaat dan umat-Nya disempurnakan. Ketika tujuan ini tercapai, maka Ia menyerahkan kembali kuasa itu, yang Ia terima hanya untuk tujuan ini, walaupun Ia akan terus memerintah jemaat dan tubuh-Nya yang telah dimuliakan di sorga. Karena itu, dalam pengertian ini dikatakan bahwa Ia akan memerintah sebagai raja sampai selama-lamanya (Why. 11:15), bahwa Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan (Luk. 1:33), bahwa kekuasaannya ialah kekuasaan yang kekal, yang tidak akan lenyap (Dan. 7:14). Lihat juga Mikha 4:7.

(3) Sang Penebus pasti akan memerintah sampai musuh terakhir umat-Nya dibinasakan, sampai maut itu sendiri dilenyapkan, sampai orang-orang kudus-Nya dihidupkan kembali dan memperoleh kehidupan yang sempurna, tidak pernah lagi merasa takut dan ada dalam bahaya maut lagi. Sebelum semua ini tercapai sempurna, Ia akan memiliki semua kuasa di sorga dan di bumi, Dia yang mengasihi kita, memberikan diri-Nya sendiri bagi kita, dan yang telah melepaskan kita dari dosa kita oleh darah-Nya. Ia yang begitu punya hubungan dekat dengan kita dan begitu peduli kepada kita. Betapa hal ini akan memberikan dukungan dan semangat bagi orang-orang kudus-Nya di setiap saat kesesakan dan pencobaan! Ia yang telah mati namun hidup, dan hidup sampai selama-lamanya akan memerintah, dan akan terus memerintah sampai penebusan umat-Nya di sempurnakan serta semua musuh-Nya dibinasakan sama sekali.

(4) Ketika semua ini selesai dilakukan, dan segala sesuatu telah ditaklukkan di bawah kaki-Nya, maka Ia sendiri sebagai Anak akan menaklukkan diri-Nya di bawah Dia, yang telah menaklukkan segala sesuatu di bawah-Nya, supaya Allah menjadi semua di dalam semua (ay. 28). Saya mengartikan hal ini bahwa pada saat itu manusia Kristus Yesus, yang telah tampil begitu mulia selama pemerintahan kerajaan-Nya akan tampil dan menyerahkan kembali kuasa kerajaan itu kepada Sang Bapa dan tunduk kepada-Nya. Banyak kali hal-hal di dalam Kitab Suci dikatakan akan terjadi ketika dinyatakan atau ditampilkan. Dan penyerahan Kerajaan ini akan menyatakan bahwa Dia yang menampakkan diri dalam kemuliaan raja yang berkuasa selama pemerintahan kerajaan ini akan menaklukkan diri-Nya di bawah Allah. Kemanusiaan yang dimuliakan dari Tuhan Yesus kita, dengan semua kemuliaan dan kuasa yang meliputinya, tidak lebih daripada seorang makhluk yang mulia. Hal ini akan tampak ketika Kerajaan itu diserahkan, dan itu akan terjadi bagi kemuliaan ilahi, supaya Allah menjadi semua di dalam semua, supaya kesempurnaan keselamatan kita dapat tampak ilahi sama sekali, dan Allah sendiri yang memperoleh kemuliaan itu. Perhatikanlah, walaupun kodrat manusiawi harus digunakan di dalam penebusan kita, namun Allah yang harus menjadi semua di dalam semua. Hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita.

III. Rasul Paulus memberikan alasan untuk mendukung ajaran kebangkitan itu dengan memakai contoh orang-orang yang dibaptis bagi orang mati (ay. 29): Jika tidak demikian, apakah faedahnya perbuatan orang-orang yang dibaptis bagi orang mati? Kalau orang mati sama sekali tidak dibangkitkan, mengapa mereka mau dibaptis bagi orang-orang yang telah meninggal? Apa yang akan mereka lakukan jika orang-orang mati itu tidak dibangkitkan? Apa yang telah mereka perbuat? Betapa sia-sianya baptisan mereka! Haruskah mereka mempertahankannya atau meninggalkannya? Mengapa mereka mau dibaptis bagi orang-orang yang telah meninggal, jika orang-orang mati itu tidak dibangkitkan? hyper tōn nekrōn. Tetapi apakah yang dimaksudkan dengan baptisan bagi orang-orang yang telah meninggal ini? Hal ini perlu untuk diketahui supaya alasan yang disampaikan oleh Rasul Paulus dapat dimengerti. Apakah alasan itu hanyalah argumentum ad hominem, atau ad rem, artinya, apakah alasan itu dipakai untuk menyelesaikan bahan perdebatan itu secara umum ataukah hanya ditujukan kepada orang-orang tertentu yang dibaptiskan bagi orang-orang yang telah meninggal. Tetapi siapa yang dapat menafsirkan ayat yang tidak jelas ini, yang walaupun hanya terdiri atas tidak lebih dari tiga kata, di samping kata sandangnya, telah ditafsirkan dengan lebih dari tiga kali tiga pengertian oleh para penerjemah? Tidak ada kesepakatan apa itu yang dimaksudkan dengan baptisan, apakah itu arti yang harfiah atau sebenarnya atau kiasan saja. Seandainya dalam pengertian harfiah, apakah yang dimaksudkan itu yang disebut baptisan Kristen ataukah upacara pembasuhan lainnya. Juga, sedikit saja ada kesepakatan siapa yang dimaksudkan dengan orang-orang yang meninggal itu, atau apa arti kata depan hyper yang digunakan itu. Beberapa orang mengartikannya sebagai kematian Juruselamat kita sendiri, (lihat definisi dalam catatan kaki Whitby). Mengapa orang dibaptiskan dalam nama seorang Juruselamat yang sudah mati, seorang Juruselamat yang berada di antara orang-orang yang mati, jika orang-orang yang meninggal tidak dibangkitkan? Namun, saya yakin yang dimaksudkan itu benar-benar bentuk tunggal dari hoi nekroi yang berarti tidak lebih dari satu orang mati. Inilah arti dari perkataan tersebut yang tidak dijumpai di bagian mana pun juga. Dan kata hoi baptizomenoi (yang dibaptis) tampak jelas berarti beberapa orang tertentu, bukan orang-orang Kristen pada umumnya, dan arti ini pasti demikian jika bentuk tunggal hoi nekroi (yang mati) dipahami sebagai Juruselamat kita. Beberapa orang mengartikan bagian ini sebagai para martir: Mengapa mereka menjadi martir demi agama mereka? Ini kadang-kadang disebut sebagai baptisan darah oleh orang-orang dahulu kala, dan yang oleh Juruselamat kita sendiri disebut sebagai baptisan (Mat. 20:22; Luk. 12:50). Tetapi dalam hal bagaimana orang-orang yang mati sebagai martir bagi agama mereka dikatakan sebagai dibaptis (artinya mati sebagai martir) untuk orang mati? Beberapa orang memahami hal ini, seperti yang dikatakan kepada kita oleh penulis-penulis kuno, sebagai kebiasaan yang dilakukan di kalangan banyak orang yang mengaku Kristen pada abad-abad pertama, di mana mereka membaptis orang atas nama dan sebagai pengganti dari pemeluk agama Kristen yang mati tanpa pernah dibaptis. Namun, bila seandainya takhayul semacam ini sudah begitu lama ada di dalam jemaat, tidak akan mungkin Rasul Paulus tidak akan menyebutnya tanpa menunjukkan rasa tidak senangnya. Ada juga yang memahami hal itu sebagai membaptis orang yang sudah mati, yang katanya merupakan suatu kebiasaan yang telah dilakukan sejak awal. Katanya ini untuk membuktikan bahwa mereka memiliki harapan akan kebangkitan. Pengertian ini berkaitan dengan penjelasan yang disampaikan oleh Rasul Paulus, tetapi tampaknya kebiasaan praktik seperti itu tidak dilakukan pada masa Rasul Paulus. Ada lagi yang memahaminya sebagai orang-orang yang dibaptis demi orang-orang yang mati sebagai martir, yaitu untuk menunjukkan kesetiakawanan dengan mereka yang telah mati untuk agama mereka. Sebagian orang dengan yakin menjadi Kristen dengan melakukan hal ini, dan alangkah sia-sianya menjadi Kristen dengan alasan seperti itu, jika karena agamanya para martir itu kehilangan hidup mereka dan menjadi binasa serta tidak hidup lagi. Namun, besar kemungkinan pada masa itu jemaat Korintus tidak mengalami banyak aniaya, juga tampaknya tidak ada banyak kejadian orang mati sebagai martir, dan juga tidak ditemukan bahwa banyak orang yang menjadi Kristen melalui kesetiaan dan keteguhan para martir. Jadi tampaknya terlalu umum untuk mengartikan ungkapan hoi nekroi hanya sebagai orang-orang yang mati sebagai martir. Ungkapan ini dapat dijelaskan secara mudah seperti ungkapan lain yang pernah saya jumpai, dan memiliki kaitan dengan penjelasan Rasul Paulus ini, yaitu bahwa hoi nekroi menunjuk pada sebagian orang di antara jemaat Korintus yang mati karena tindakan tangan Allah. Kita membaca bahwa banyak di antara mereka yang lemah dan sakit, dan tidak sedikit yang meninggal (11:30), karena tingkah laku mereka yang tidak pantas pada perjamuan Tuhan. Hukuman ini dapat saja menimbulkan kengerian bagi banyak orang sehingga mereka masuk menjadi Kristen, sama seperti kepala penjara di Filipi yang mengalami gempa bumi ajaib (Kis. 16:29-30, dst.). Orang-orang yang dibaptiskan pada saat kejadian seperti itu mungkin sesuai jika dikatakan dibaptis bagi orang mati, artinya demi kepentingan mereka sendiri. Dan kata hoi baptizomenoi (yang dibaptis) dan hoi nekroi (yang meninggal) saling menjelaskan satu sama lain. Berdasarkan anggapan ini orang-orang Korintus tidak dapat salah mengerti akan apa yang dimaksudkan oleh Rasul Paulus. “Nah,” ia berkata, “apa yang harus mereka lakukan, dan mengapa mereka mau dibaptis, jika orang-orang yang telah meninggal tidak dibangkitkan? Umumnya kamu percaya bahwa orang-orang ini telah melakukan sesuatu yang benar dan bertindak bijaksana sebagaimana seharusnya pada kejadian ini. Tetapi mengapa mereka mau melakukan hal itu jika orang-orang yang meninggal tidak dibangkitkan? Bukankah mereka malah bisa mempercepat kematian mereka karena dengan berbuat demikian mereka memancing amarah Allah yang cemburu, dan tidak memiliki harapan setelah kematian?” Namun, apakah ini yang dimaksudkan atau mungkin ada arti yang lain, tidak diragukan lagi bahwa alasan dan penjelasan Rasul Paulus itu baik dan dapat dimengerti oleh jemaat Korintus. Yang berikutnya sama jelasnya bagi kita.

IV. Rasul Paulus memberikan alasan yang melihat tidak masuk akalnya perbuatannya sendiri dan orang-orang Kristen lainnya.

1. Betapa bodohnya mereka yang setiap hari membahayakan diri (ay. 30): “Mengapakah kami setiap saat membawa diri kami ke dalam bahaya? Mengapa kami membuka diri terus-menerus kepada bahaya, kami orang-orang Kristen, khususnya kami para rasul?” Setiap orang tahu bahwa pada masa itu menjadi orang Kristen itu mengundang bahaya, terlebih lagi bagi seorang pemberita firman dan seorang rasul. “Nah,” kata Rasul Paulus, “betapa bodohnya kami menghadang bahaya ini, jika kami tidak memiliki pengharapan yang lebih baik di balik kematian, jika kami binasa sepenuhnya dan tidak hidup kembali!” Perhatikanlah, Kekristenan akan menjadi suatu pengakuan iman yang bodoh jika tidak menjanjikan harapan untuk kehidupan yang akan datang, setidaknya di dalam masa-masa berbahaya seperti yang dihadapi oleh orang-orang percaya mula-mula. Mereka harus mempertaruhkan semua berkat dan kesenangan kehidupan ini dan menghadapi serta menanggung semua kejahatan dunia ini tanpa harapan di masa depan. Dan apakah ini ciri agama yang layak untuk ditanggung oleh seorang Kristen? Tidakkah ia harus menyesuaikan ciri ini jika ia menyerahkan harapan-harapan masa depannya dan menolak kebangkitan orang mati? Alasan ini ditujukan kepada dirinya sendiri: “Aku katakan, bahwa ini benar” ia berkata, “demi kebanggaanku akan kamu di dalam Kristus, Tuhan kita, demi semua kesenangan di dalam Kekristenan serta semua pertolongan dan dukungan dari iman kita yang kudus, bahwa tiap-tiap hari aku berhadapan dengan maut,” (ay. 31). Ia terus-menerus berada dalam keadaan bahaya maut dan seperti yang biasa kita katakan, ia mempertaruhkan nyawanya. Dan mengapa ia harus membahayakan diri seperti itu, jika ia tidak memiliki harapan setelah kehidupan ini berakhir? Hidup setiap hari dalam bayang-bayang dan bahaya maut, namun tanpa memiliki harapan setelah kematian, tentunya sangat membuat orang ketakutan dan gelisah, dan dalam hal yang dihadapi Rasul Paulus itu, sungguh teramat memilukan. Ia perlu benar-benar yakin sepenuhnya akan kebangkitan orang mati, atau ia akan menjadi sangat bersalah telah membahayakan hidup orang banyak yang dikasihinya di dunia ini serta hidupnya sendiri sebagai taruhannya. Ia telah menghadapi banyak kesulitan besar dan musuh-musuh beringas. Ia telah berjuang melawan binatang buas di Efesus (ay. 32), dan ada dalam bahaya dicabik-cabik oleh orang banyak yang mengamuk, dihasut oleh Demetrius, seorang pengrajin perak, dan tukang-tukang lain (Kis. 19:24 dst.). Sebagian orang mengartikan secara harfiah bahwa Rasul Paulus harus berjuang melawan binatang buas di dalam ampiteater pada suatu pertunjukan Romawi di kota itu. Nikiforos (pujangga Kristen abad pertama – pen.) menceritakan suatu kisah resmi mengenai hal ini dan tentang mujizat indah yang terjadi pada singa-singa yang datang mendekatinya. Namun menurut saya, pencobaan dan keadaan hidupnya yang begitu luar biasa tentunya tidak akan dilewatkan begitu saja oleh Lukas, apa lagi oleh Rasul Paulus sendiri ketika ia memberikan perincian yang begitu luas dan khusus mengenai penderitaannya (2Kor. 11:24 dst.). Ketika ia menyebutkan bahwa lima kali ia disesah orang Yahudi, tiga kali didera dengan tongkat, satu kali dilempari dengan batu, tiga kali mengalami karam kapal, sangat anehlah kalau ia tidak menyebutkan bahwa ia pernah harus berjuang melawan binatang buas. Oleh karena itu, saya mengartikan bahwa yang dimaksud oleh rasul Paulus dengan berjuang melawan binatang buas ini merupakan ungkapan yang bersifat kiasan. Yang dimaksudkannya sebagai binatang buas itu adalah orang-orang yang berwatak beringas dan tidak manusiawi, dan bahwa hal ini menunjuk kepada perkataan yang telah disebutkannya. “Nah,” ia berkata, “Apakah gunanya semua perjuangan ini bagiku, jika orang mati tidak dibangkitkan? Mengapa aku harus menghadapi maut setiap hari, mengalami bahaya kehilangan nyawa oleh tangan-tangan bengis, jika orang mati tidak dibangkitkan? Dan jika post mortem nihil – jika aku binasa oleh kematian dan tidak mengharapkan sesuatu setelah kematian itu, adakah alasan yang lebih baik lagi?” Apakah Rasul Paulus begitu bodoh? Sudahkah ia memberi alasan kepada jemaat Korintus bila mereka berpikiran demikian tentang dia? Jika ia tidak sungguh-sungguh yakin bahwa kematian itu berguna baginya, maukah ia dengan cara yang bodoh ini membuang nyawanya sendiri? Dapatkah sesuatu selain pengharapan yang pasti akan kehidupan yang lebih baik setelah kematian memadamkan cinta terhadap kehidupan di dalam dirinya sampai sebegitu rupa? “Apakah gunanya hal itu bagiku, jika orang mati tidak dibangkitkan? Apa yang dapat aku janjikan kepada diriku sendiri?” Perhatikanlah, sah-sah saja dan sesuai bagi orang Kristen untuk menjanjikan keuntungan bagi dirinya sendiri atas kesetiaannya kepada Allah. Demikianlah yang dilakukan oleh Rasul Paulus. Begitu jugalah yang dilakukan sendiri oleh Juruselamat kita yang mulia (Ibr. 12:2). Dan begitu jugalah kita diminta melakukan hal yang sama sesuai dengan contoh yang diberikan-Nya, dan mengeluarkan buah kekudusan kita, supaya tujuan hidup kita adalah kehidupan yang kekal. Itulah tujuan iman kita, yaitu keselamatan jiwa kita (1Ptr. 1:9), bukan saja apa yang kita hasilkan, melainkan apa yang menjadi tujuan kita.

2. Akan jauh lebih bijaksana untuk menikmati kesenangan hidup ini: Marilah kita makan dan minum, sebab besok kita mati (ay. 32), marilah kita menjadi orang yang suka makan enak. Demikianlah yang dimaksudkan oleh Nabi Yesaya (Yes. 22:13). Bahkan marilah kita hidup seperti binatang, jika kita harus mati seperti mereka. Inilah tindakan yang lebih bijaksana jika me mang tidak ada kebangkitan, tidak ada kehidupan atau keadaan sesudah kematian, daripada meninggalkan semua kenikmatan hidup dan membiarkan diri kita mengalami semua kesengsaraan hidup ini, serta hidup dalam bahaya tak putus-putusnya sampai binasa oleh kekerasan yang penuh kebengisan dan kekejaman. Sebagaimana telah saya tunjukkan di atas, ayat-ayat ini juga dengan jelas menyiratkan bahwa orang-orang di antara jemaat Korintus yang menolak kebangkitan itu adalah orang-orang Saduki tulen. Kita mengetahui tentang pandangan-pandangan mereka di dalam tulisan-tulisan kudus, bahwa mereka mengatakan tidak ada kebangkitan, dan tidak ada malaikat atau roh (Kis. 23:8), artinya, “Manusia itu hanya tubuh semata, tidak ada di dalam dirinya yang dapat membuat tubuhnya hidup terus, dan tubuh itu akan hidup kembali begitu orang mati.” Orang-orang Saduki seperti itulah yang didebat oleh Rasul Paulus. Kalau tidak, alasan-alasan yang ia sampaikan tidak akan mempunyai kekuatan. Sebab, walaupun tubuh ini tidak pernah hidup kembali, namun, selama jiwa tetap hidup, ia akan memetik banyak keuntungan dari semua bahaya yang harus ia hadapi demi kepentingan Kristus. Bahkan, pastilah bahwa jiwa akan menjadi tempat utama dan pokok yang menerima kemuliaan dan kebahagiaan sorgawi. Namun, jika tidak ada yang dapat diharapkan setelah kematian, maka tidakkah setiap orang bijaksana akan lebih memilih kehidupan yang mudah dan nyaman daripada hidup yang begitu merana seperti yang dialami Paulus? Bahkan, orang akan berupaya untuk menikmati segala kesenangan hidup sebanyak dan sesering mungkin mengingat hidup ini hanya singkat saja? Perhatikanlah, tidak ada hal lain, selain harapan yang lebih baik sesudah kematian yang memungkinkan orang meninggalkan semua kenikmatan dan kesenangan di dunia ini, dan memilih kemiskinan, kehinaan, kesengsaraan, dan kematian. Begitu jugalah yang dilakukan oleh para rasul dan orang-orang Kristen mula-mula. Tetapi, alangkah malangnya keadaan mereka dan betapa bodohnya perbuatan mereka jika ternyata mereka menipu diri sendiri dan menyalahgunakan dunia ini dengan semua harapan yang palsu dan sia-sia!

V. Rasul Paulus menutup penjelasannya dengan peringatan, nasihat, dan teguran.

1. Suatu peringatan terhadap bahaya bergaul dengan orang-orang jahat, orang-orang yang hidup bebas dan tanpa pijakan yang baik: Janganlah kamu sesat, ia berkata, pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik (ay. 33). Mungkin sebagian dari orang-orang yang mengatakan bahwa tidak ada kebangkitan orang mati adalah orang-orang yang hidup bebas dan berusaha memenuhi perbuatan-perbuatan keji mereka dengan dasar yang sedemikian rusak. Mereka sering menyerukan, Marilah kita makan dan minum, sebab besok kita mati. Nah, Rasul Paulus yakin betul bahwa perkataan mereka ini menunjukkan bahwa setelah kematian tidak ada apa-apa lagi. Namun, setelah menyanggah dasar pandangan mereka, sekarang ia memperingatkan jemaat Korintus betapa berbahayanya perilaku hidup orang-orang semacam itu. Ia memberi tahu mereka bahwa mereka mungkin akan dirusak oleh orang-orang itu dan akan jatuh ke dalam cara hidup mereka jika mereka mengikuti prinsip-prinsip yang jahat itu. Perhatikanlah, pergaulan dan perilaku yang buruk sangat mungkin membuat orang menjadi buruk. Barangsiapa ingin menjaga kemurnian hidup mereka menjaga pergaulan yang baik. Kesalahan dan kelakuan jahat sifatnya menular. Jadi, supaya jangan tertular, kita harus menjauhi orang-orang yang berkelakuan seperti itu. Siapa yang bergaul dengan orang bijak akan menjadi bijak, tetapi siapa berteman dengan orang bebal menjadi malang (Ams. 13:20).

2. Inilah nasihat untuk menghentikan dosa-dosa mereka dan menggugah mereka untuk menjalani kehidupan yang lebih suci dan benar (ay. 34): Sadarlah kembali sebaik-baiknya atau sadarlah dengan benar, eknēpsate dikaiōs, dan jangan berbuat dosa atau jangan berbuat dosa lagi. “Sadarlah sendiri, hentikan dosa-dosamu dengan bertobat: tolaklah dan tinggalkan setiap jalan yang jahat, perbaiki apa saja yang salah, dan janganlah karena malas dan bodoh kamu terseret ke dalam pergaulan dan pandangan-pandangan seperti itu yang dapat melemahkan harapan Kekristenanmu dan merusakkan perbuatan-perbuatanmu.” Ketidakpercayaan akan kehidupan yang akan datang menghancurkan semua kebajikan dan kesaleh anmu. Yang terbaik untuk dilakukan dalam menjalankan kebenaran itu adalah berhenti berbuat dosa dan mengarahkan diri pada kegiatan ibadah, serta melakukannya dengan segala kesungguhan. Jika ada kebangkitan dan kehidupan di masa depan, kita harus hidup dan berbuat sebagaimana seharusnya orang-orang yang mempercayai hal itu. Dan janganlah mengikuti pandangan atau gagasan-gagasan bodoh dan kacau yang dapat merusak akhlak kita, karena ini membuat kita hidup bebas dan mencintai perkara-perkara jasmaniah.

3. Inilah teguran, dan tajam, yang ditujukan setidaknya kepada beberapa orang di antara mereka: Ada di antara kamu yang tidak mengenal Allah. Hal ini kukatakan, supaya kamu merasa malu. Sungguh memalukan jika orang-orang Kristen sampai tidak mengenal Allah. Agama Kristen memiliki pengetahuan yang terbaik mengenai Allah, kodrat-Nya, kasih karunia-Nya, dan pemerintahan-Nya. Orang-orang yang mengaku percaya dan memeluk agama ini akan mempermalukan diri sendiri bila terus ada dalam keadaan tidak mengenal Allah. Mereka tidak mengenal Allah adalah akibat kemalasan mereka sendiri dan sikap meremehkan Allah. Tidakkah sangat memalukan bagi seorang Kristen bila ia sampai meremehkan Allah dan sama sekali tidak peduli dengan perkara-perkara yang begitu berhubungan erat dan berharga mengenai Dia? Perhatikan juga, ketidaktahuan akan Allah itulah yang membuat orang tidak percaya akan adanya kebangkitan dan kehidupan setelah kematian. Orang-orang yang mengenal Allah tahu bahwa Ia tidak akan meninggalkan hamba-hamba-Nya yang setia, juga tidak akan membiarkan mereka mengalami kesukaran dan penderitaan semacam itu tanpa balasan dan upah. Mereka tahu bahwa Ia bukanlah pribadi yang tidak setia atau jahat, sehingga melupakan usaha dan kesabaran mereka, pelayanan mereka yang tak henti-hentinya serta sukacita mereka dalam penderitaan, atau membiarkan pekerjaan mereka menjadi sia-sia. Namun, saya cenderung berpendapat bahwa ungkapan itu memiliki arti yang lebih kuat, yaitu bahwa ada orang-orang di antara jemaat Korintus yang tidak percaya adanya Allah sehingga mereka sukar mengakui Allah, atau tidak mau mengakui bahwa ada Allah yang memperhatikan atau peduli dengan urusan-urusan manusia. Hal ini benar-benar merupakan suatu perbuatan yang menurunkan martabat dan memalukan jemaat Kristen mana pun juga. Perhatikanlah, ketidakpercayaan akan adanya Allah sebenarnya bertumpu di atas dasar ketidakpercayaan manusia akan kehidupan sesudah kematian. Orang-orang yang mengakui Allah dan pemeliharaan-Nya serta memperhatikan betapa seringnya orang-orang baik menanggung penderitaan yang buruk, pasti tidak akan merasa ragu mengenai kehidupan setelah kematian di mana segala sesuatu akan dipulihkan menjadi benar🇮🇱✅

Minggu, 08 Maret 2026

Renungan Pagi


Santapan Harian
Wasiat Terakhir 
Yosua 23 

Jika kita adalah orang tua dan kita tahu akan segera meninggalkan dunia ini, kira-kira apa wasiat terakhir kita kepada anak-anak kita? Atau, jika kita sebagai anak, kira-kira wasiat apa yang kita harapkan? Di akhir hidupnya, Yosua pun memberikan wasiat kepada bangsa Israel. Apa wasiat terakhir Yosua kepada bangsa Israel?

Pada dasarnya wasiat terakhir Yosua dalam pasal 23 ini dapat disimpulkan dalam satu kalimat, "... kamu harus berpaut pada TUHAN, Allahmu..." (8). Sejarah bangsa Israel membuktikan bahwa godaan besar bagi mereka dalam perjalanan mengikut TUHAN adalah kecenderungan mereka untuk berpaut pada diri mereka sendiri, pada materi dan pada hal-hal yang kasat mata. Terlebih lagi setelah mereka hidup tenteram di tanah perjanjian yang berlimpah susu dan madunya itu, mereka bisa saja pada akhirnya berpaut pada semua itu dan bukan pada Allah.

Minimal ada dua kunci bagi bangsa Israel agar dapat terus berpaut pada Allah. Pertama, mengingat perbuatan Allah pada masa lampau. Itulah yang disampaikan Yosua dalam wasiatnya bahwa semua pencapaian mereka saat ini bukanlah usaha mereka sendiri, tetapi karena pertolongan, penyertaan, dan kasih setia TUHAN. Yosua berkata, "Kamu telah melihat ... Dialah yang telah berperang ..." (3); "Ingatlah ..." (4); "TUHAN telah menghalau ..." (9). Dengan mengingat perbuatan Tuhan di masa lampau, kita diharapkan sadar bahwa apa yang kita miliki dan capai saat ini semata-mata adalah karena Tuhan. Kita tidak mungkin hidup tanpa berpaut pada Tuhan.

Kedua, tidak terpengaruh oleh lingkungan yang buruk. Yosua mengingatkan mereka supaya tidak mengikuti cara hidup orang-orang yang tidak mengenal Allah di sekitar mereka (7). Mereka juga diperingatkan untuk tidak kawin-mawin dengan bangsa lain karena hal itu merupakan godaan besar untuk jatuh dalam penyembahan berhala (12).

Sudahkah Saudara berpaut pada Tuhan? Kenalilah godaan yang dapat membuat Saudara rentan berpaling dari Tuhan? Akui di hadapan-Nya dan mohon pertolongan dari Tuhan. [ABL]


SYARAT DIKATAKAN BIDAT KRISTEN

Dalam teologi Kristen, istilah bidat (heresy) digunakan untuk menyebut ajaran yang dianggap menyimpang dari ajaran pokok iman Kristen yang telah diterima oleh gereja secara umum. Kata ini berasal dari bahasa Yunani hairesis yang berarti “pilihan” atau “aliran,” tetapi dalam perkembangan teologi gereja dipakai untuk menunjuk ajaran yang menyimpang dari kebenaran iman yang diakui gereja.

Secara teologis, suatu ajaran biasanya dikatakan bidat apabila memenuhi beberapa kriteria berikut.


1. Menyangkal doktrin inti iman Kristen

Ajaran dianggap bidat jika menolak atau mengubah doktrin dasar yang menjadi fondasi iman Kristen. Beberapa doktrin inti yang dimaksud antara lain:

  • Keilahian Yesus Kristus
    Menolak bahwa Yesus adalah Allah yang menjadi manusia.

  • Doktrin Tritunggal
    Menolak bahwa Allah adalah satu hakikat dalam tiga pribadi: Bapa, Anak, dan Roh Kudus.

  • Keselamatan oleh kasih karunia
    Mengajarkan bahwa manusia diselamatkan semata-mata oleh usaha manusia tanpa anugerah Allah.

  • Kebangkitan Kristus
    Menolak kebangkitan Yesus secara nyata dari kematian.

Jika sebuah ajaran menolak salah satu dari pokok ini, gereja secara historis sering menggolongkannya sebagai bidat.


2. Bertentangan dengan ajaran Alkitab secara jelas

Dalam tradisi Kristen, Alkitab dianggap sebagai sumber utama kebenaran iman. Karena itu ajaran yang secara nyata bertentangan dengan isi Alkitab dapat dianggap menyimpang.

Contoh ayat yang sering dijadikan dasar peringatan terhadap ajaran sesat:

  • Galatia 1:8–9
    “Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga yang memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda dari yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia.”

  • 2 Petrus 2:1
    “Sebagaimana nabi-nabi palsu dahulu tampil di tengah-tengah umat Allah, demikian pula di antara kamu akan ada guru-guru palsu.”


3. Ditolak oleh konsensus gereja sepanjang sejarah

Dalam sejarah gereja, berbagai konsili gereja menegaskan ajaran iman dan menolak ajaran yang dianggap menyimpang. Misalnya:

  • Konsili Nicea (325) menolak ajaran Arianisme yang menyatakan Yesus bukan Allah sejati.
  • Konsili Chalcedon (451) menegaskan bahwa Kristus memiliki dua natur: ilahi dan manusia.

Jika suatu ajaran bertentangan dengan keputusan teologis yang telah diakui secara luas oleh gereja sepanjang sejarah, ajaran tersebut sering dikategorikan sebagai bidat.


4. Mengganti pusat iman dari Kristus kepada hal lain

Ajaran yang menggeser pusat iman dari Kristus kepada manusia, pemimpin tertentu, pengalaman mistik, atau wahyu baru sering dianggap menyimpang.

  • Mengklaim ada wahyu baru yang lebih tinggi dari Alkitab
  • Menganggap pemimpin tertentu sebagai sumber keselamatan
  • Mengajarkan jalan keselamatan di luar karya Kristus
  • 5. Membentuk ajaran yang memecah iman gereja

Bidat juga sering ditandai oleh ajaran yang menimbulkan perpecahan serius dalam tubuh gereja karena mengubah dasar iman yang telah diterima bersama.

Dalam Perjanjian Baru, Paulus menasihati jemaat:Titus 3:10“ Seorang bidat yang sudah satu dua kali kaunasihati, hendaklah engkau jauhi.”

Kesimpulan: Secara ringkas, suatu ajaran dalam kekristenan biasanya disebut bidat apabila:

  1. Menolak doktrin inti iman Kristen.
  2. Bertentangan dengan ajaran Alkitab.
  3. Tidak sejalan dengan pengakuan iman gereja sepanjang sejarah.
  4. Menggeser pusat keselamatan dari Kristus.
  5. Menghasilkan ajaran baru yang memecah iman gereja.

Namun dalam praktiknya, penilaian tentang bidat sering bergantung pada tradisi gereja, otoritas teologis, dan konteks sejarah. Karena itu, dalam studi teologi biasanya diperlukan analisis yang hati-hati sebelum suatu ajaran dinyatakan sebagai bidat✅

Selasa, 24 Februari 2026

Makna Sabar

Makna Sabar Menurut Iman Kristen
1. Dasar Biblis tentang Sabar
Dalam iman Kristen, sabar bukan sekadar kemampuan menahan diri, tetapi sikap batin yang lahir dari relasi dengan Allah. Perjanjian Baru memakai istilah Yunani makrothumia (panjang hati, tidak mudah marah) dan hupomone (ketekunan yang bertahan dalam tekanan)✅

Sabar berakar pada karakter Allah sendiri yang panjang sabar dan setia. Teladan tertinggi adalah Yesus Kristus yang tetap taat dan penuh kasih bahkan dalam penderitaan. Dalam Perjanjian Lama, tokoh Ayub menunjukkan bahwa kesabaran bukan berarti tidak bergumul, tetapi tetap percaya di tengah ketidakmengertian✅

2. Dimensi Teologis Sabar

Secara teologis, sabar memiliki beberapa dimensi penting:

✅Sabar sebagai buah Roh
Kesabaran adalah bagian dari transformasi batin yang dikerjakan Roh Kudus. Artinya, sabar bukan hasil kekuatan moral manusia semata, tetapi karya anugerah.

✅Sabar sebagai partisipasi dalam penderitaan Kristus
Orang percaya dipanggil untuk setia dalam penderitaan, bukan karena penderitaan itu baik, tetapi karena melalui kesetiaan itu iman dimurnikan dan karakter dibentuk.

✅Sabar sebagai ekspresi pengharapan eskatologis
Iman Kristen melihat hidup dalam terang pengharapan akan pemulihan akhir. Kesabaran muncul karena percaya bahwa Allah bekerja bahkan ketika hasil belum terlihat.

3. Sabar Bukan Pasif atau Lemah

Sering kali sabar disalahartikan sebagai pasrah tanpa tindakan. Dalam perspektif Kristen, sabar justru aktif dan penuh kesadaran. Sabar berarti:
✅Mengendalikan diri tanpa membalas kejahatan dengan kejahatan
✅Tetap mengasihi ketika disakiti
✅Bertahan dalam proses pertumbuhan
✅Konsisten dalam doa dan pelayanan
✅Kesabaran membutuhkan kekuatan rohani dan kedewasaan iman.

4. Relevansi Praktis dalam Kehidupan Sehari-hari

Dalam konteks keluarga, pelayanan, dan masyarakat majemuk, sabar menjadi fondasi relasi yang sehat. Tanpa kesabaran, relasi mudah rusak oleh emosi sesaat. Dalam pendidikan iman, sabar membentuk karakter yang tahan uji, tidak reaktif, dan matang secara spiritual✅

5. Kesimpulan

Menurut iman Kristen, sabar adalah sikap rohani yang lahir dari kepercayaan kepada Allah yang setia. Ia bukan sekadar menunggu, tetapi bertahan dengan iman, mengasihi dengan tulus, dan berharap dengan teguh. Kesabaran menunjukkan kedewasaan rohani karena mencerminkan karakter Kristus dalam kehidupan orang percaya🙏✅

Senin, 26 Januari 2026

Renungan Pagi Tanggal 27 Januari 2026

Kasih setia TUHAN tak berkesudahan, rahmat-Nya selalu baru tiap pagi.”

Ratapan 3:22–23

Pagi selalu datang dengan dua kemungkinan. Kita bisa membawanya sebagai beban, kelanjutan dari masalah kemarin. Atau kita bisa menerimanya sebagai anugerah, ruang baru yang Tuhan sediakan untuk memulai kembali.

Firman ini menegaskan satu hal penting: rahmat Tuhan tidak pernah basi. Ia tidak bergantung pada keberhasilan atau kegagalan kita kemarin. Saat mata terbuka pagi ini, itu tanda bahwa Tuhan masih memberi kesempatan. Bukan karena kita layak, tetapi karena Dia setia.

Sering kali kita bangun dengan pikiran yang sudah penuh: target, kecemasan, luka lama, atau rasa bersalah. Renungan pagi mengajak kita berhenti sejenak dan menyadari bahwa sebelum kita berbuat apa pun hari ini, Tuhan sudah lebih dulu mengasihi. Dari situlah kekuatan sejati muncul.

Maka hari ini, jalani langkah dengan hati yang tenang. Kerjakan tanggung jawab dengan jujur. Hadapi orang lain dengan kelembutan. Bila gagal, ingat bahwa sore nanti tidak akan menghapus rahmat yang sudah Tuhan curahkan pagi ini.

Doa singkat:
Tuhan, terima kasih untuk pagi yang baru. Ajari aku melihat hari ini dengan iman, bukan dengan ketakutan. Perbarui hatiku seperti Engkau memperbarui rahmat-Mu.Amin ✅

Jumat, 23 Januari 2026

Belajar Mengenal Tuhan dengan Iman

Renungan Hari Ini
Mazmur 119:105

“Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.”

Ayat ini berbicara dengan bahasa yang sangat sederhana, tetapi maknanya dalam. Firman Tuhan tidak digambarkan sebagai sorot lampu besar yang menerangi seluruh masa depan sekaligus, melainkan pelita. Pelita hanya memberi terang secukupnya untuk satu langkah ke depan. Di situlah letak kebijaksanaannya✅

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering ingin kepastian penuh sebelum melangkah. Kita ingin tahu hasil akhir, jalan lurus tanpa risiko, dan masa depan tanpa tanda tanya. Namun Mazmur 119:105 mengajarkan bahwa Tuhan lebih sering menuntun kita langkah demi langkah. Firman-Nya cukup untuk hari ini, cukup untuk keputusan yang sedang kita hadapi sekarang✅

Pelita juga berarti kedekatan. Cahaya itu berada di dekat kaki, bukan jauh di langit. Artinya, firman Tuhan bekerja di wilayah yang sangat konkret: pilihan kecil, sikap hati, cara berbicara, cara memperlakukan orang lain. Iman tidak hanya hidup dalam ide besar, tetapi dalam kesetiaan pada terang kecil yang Tuhan berikan setiap hari✅

Renungan ini mengingatkan kita bahwa kegelapan bukan alasan untuk berhenti berjalan. Selama firman Tuhan kita pegang, terang selalu tersedia. Mungkin jalannya belum seluruhnya terlihat, tetapi satu langkah dalam terang lebih aman daripada berlari dalam gelap✅

Doa Singkat
Tuhan, ajar aku percaya pada terang firman-Mu, meski aku belum melihat seluruh jalan. Beri aku keberanian untuk setia melangkah hari ini, satu langkah demi satu langkah, bersama-Mu. Amin✅

Minggu, 11 Januari 2026

Dibentuk oleh Tuhan

Yohanes 6:60-66

Sebuah adagium Latin berbunyi: 'Veritas odium parit', yang kurang lebih berarti: 'Kebenaran menimbulkan kebencian'. Kebenaran tidak selalu berjalan lurus dengan penerimaan, sering kali justru menimbulkan kebencian dan perlawanan serta penolakan. Hal ini terlihat dalam bacaan kita.

Banyak orang yang mengikuti Yesus terguncang ketika Ia berkata mengenai diri-Nya sebagai Roti Kehidupan (60). Mereka tidak siap menerima ajaran itu karena mereka melihatnya secara harfiah dan hal itu bertentangan dengan ajaran Yahudi yang mereka jalani. Reaksi para murid yang kemudian bersungut-sungut menunjukkan ketidaknyamanan mereka, namun Yesus justru semakin mengonfrontasi mereka (61-65). Hal itu menunjukkan bahwa kebenaran yang disampaikan Yesus tidak akan diubah karena penerimaan dan kesukaan orang kepada-Nya. Akhirnya, banyak dari mereka yang mengundurkan diri dan tidak lagi mengikuti Yesus (66).

Di sini sangat terlihat bahwa orang-orang itu memiliki imaji dan konstruksi tentang Yesus ketika mereka mengikuti-Nya. Mereka tidak datang kepada Yesus sebagai gelas kosong untuk diisi oleh-Nya. Mereka membentuk Yesus di dalam kepala mereka dan berharap Yesus bertindak seperti yang mereka imajinasikan sehingga mereka tidak siap ketika Yesus ingin membentuk mereka seturut ekspektasi-Nya! Hal yang luar biasa adalah, Yesus tidak menahan kepergian orang-orang itu dan tetap memberikan kebebasan memilih kepada mereka.

Saudara, mari bertanya kepada diri sendiri: Apakah kita termasuk orang yang bisa menerima kebenaran sekalipun pahit, atau memilih untuk menolaknya jika menyinggung kita? Apa reaksi kita ketika ditegur atas kekurangan dan kelalaian kita? Apa kita membela diri, marah, menyangkal, atau sibuk mengklarifikasi?

Dalam relasi dengan Tuhan, ingatlah bahwa seharusnya kitalah yang dibentuk Tuhan seturut kehendak-Nya, bukan sebaliknya! Dengan hati yang mau terus belajar, bentukan Tuhan akan membuat kita menjadi pengikut-pengikut-Nya yang tangguh, kuat, dan tetap setia sampai akhir. Amin

Senin, 29 Desember 2025

Renungan Pagi

Bait Allah yang Baru
Yohanes 2:13-25

Bait Allah adalah tempat kehadiran Allah di tengah-tengah umat-Nya. Melalui peristiwa yang tertulis dalam bacaan ini, Yesus sedang menunjukkan apa arti Bait Allah.

Peristiwa ini terjadi saat perayaan Paskah Yahudi sudah dekat. Pada perayaan ini, banyak orang dari berbagai bangsa datang ke Yerusalem untuk beribadah di Bait Allah. Namun, suasana di halaman Bait Allah telah berubah menjadi pasar yang sibuk dengan aktivitas perdagangan. Para pedagang menjual lembu, domba, dan merpati untuk keperluan kurban persembahan, sementara para penukar uang melayani kebutuhan para peziarah yang datang dari berbagai wilayah dengan mata uang yang berbeda. Yesus marah dan mengusir mereka, "Jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan!" (14-16). Tujuan utama Bait Allah sebagai tempat beribadah kepada Allah dan rumah doa bagi segala bangsa (bdk. Yes 56:7) telah digantikan dengan aktivitas perdagangan.

Yesus memberi makna baru yang radikal akan Bait Allah. Keterhubungan manusia dengan Allah tidak lagi dibatasi oleh tempat fisik atau ritual agama, melainkan di dalam diri-Nya. Melalui kematian dan kebangkitan-Nya, tubuh-Nya menjadi Bait Allah yang baru (21). Di dalam kematian-Nya, Ia menghapus semua penghalang yang memisahkan manusia dari Allah, baik penghalang etnis, sosial, maupun budaya, sehingga semua orang dapat beribadah kepada Allah. Tak ada lagi dinding pemisah antara Allah dan manusia. Melalui kebangkitan-Nya, Yesus membuka jalan bagi semua orang untuk datang kepada Allah tanpa penghalang. Siapa pun yang percaya kepada-Nya dapat masuk ke dalam hadirat Allah.

Kita dapat beribadah kepada Allah karena Yesus mati di atas kayu salib dan bangkit pada hari ketiga. Seperti Yesus membuka jalan bagi semua bangsa, kita juga dipanggil untuk membuka gereja dan komunitas bagi siapa pun yang mencari kebenaran dan kasih Allah. Gereja dan komunitas Kristen harus menjadi saksi Kristus yang terbuka, tidak eksklusif agar semua orang mengalami karya penebusan Yesus✅


Rabu, 10 Desember 2025

Risalah

DAMPAK NEGATIF MEGANG HP BERLEBIHAN BAGI ANAK-ANAK

1. Mengganggu perkembangan otak, screen time berlebihan mengurangi stimulasi penting seperti ngobrol, bergerak, dan bermain → bahasa & sosial bisa terlambat.

2. Anak jadi susah diatur
Jika HP dipakai untuk menenangkan, anak belajar “rewel = dapat HP,” sehingga kontrol emosi jadi lemah.

3. Mudah mar4h saat kuota/sinyal bermasalah
Game & video memberi dopamin cepat. Ketika berhenti mendadak, muncul frustrasi.

4. Sulit konsentrasi
Otak terbiasa dengan stimulasi cepat, sehingga belajar di dunia nyata terasa membosankan.

5. Makan & belajar terganggu
HP membuat anak lupa waktu, makan sambil nonton, tidur telat, dan jadwal belajar berantakan.

6. Risiko cemas & murung meningkat
Kurang tidur, konten negatif, dan kurang interaksi dapat meningkatkan risiko gangguan emosional.

Wamena, 10 Desember 2025

Minggu, 23 November 2025

Ingatlah akan Kebesaran-Nya

Ulangan 11:1-7

Mengalami kuasa Allah memampukan umat mengenal Dia dengan benar. Pengenalan yang benar akan memampukan umat menjadi pengikut-Nya yang setia (1). Musa mengingatkan bangsa Israel akan kebesaran kuasa TUHAN yang telah mereka alami. TUHAN memelihara mereka di padang gurun (2-5). Dari pengalaman mereka, nyatalah bahwa TUHAN yang mereka sembah dahsyat dan kuat! Seharusnya, tidak ada lagi keraguan mengikut Dia.

TUHAN, Allah yang mereka sembah adalah adil dan benar. Ia menghukum orang yang menista-Nya. Datan dan Abiram, anak-anak Eliab, keturunan Ruben mengajak orang-orang untuk melawan Musa, mereka memberontak terhadap TUHAN dengan melawan utusan-Nya ini. TUHAN pun menghukum dengan mengangakan mulut tanah dan menelan mereka bersama seisi rumahnya dan segala yang mereka pelihara di tengah seluruh orang Israel (6-7). TUHAN tidak hanya menunjukkan kebesaran-Nya melalui mukjizat, tetapi juga melalui hukuman yang dahsyat terhadap orang yang memberontak. Mereka melihat segala perbuatan besar yang dilakukan TUHAN dengan mata mereka sendiri. Jadi, mereka sebenarnya adalah saksi mata karya agung Allah.

Orang yang sudah mengenal Tuhan dengan benar akan mampu mengasihi dan melakukan kewajibannya terhadap Dia dengan senantiasa berpegang pada segala ketetapan, peraturan, dan perintah-Nya dengan tulus. Motivasi yang benar dalam melakukannya adalah dengan mengingat kebesaran Tuhan. Pesan bagi kita: dengan mengingat kebesaran Tuhan dan berpegang pada ketetapan, peraturan, dan perintah-Nya, kita makin menyadari karya Allah dalam hidup kita. Ingatlah juga murka Allah beserta dampaknya ketika kita memberontak terhadap ketetapan-Nya.

Setiap orang pasti pernah mengalami dan menyaksikan kebesaran Tuhan dalam hidupnya. Jadikanlah pengalaman itu sebagai motivasi untuk tetap setia mengasihi Tuhan. Ingatlah selalu akan kebesaran-Nya, dan jadikan sebagai energi melakukan ketetapan-Nya. [MRG]

Selasa, 04 November 2025

Santapan Harian

Jangan Gentar, Jangan Takut! 
Ulangan 1:19-33 

Kita mengenal dua jenis ketakutan. Kata 'gentar' merujuk kepada ketakutan yang disertai alasan yang masuk akal. Sedang ketakutan karena alasan yang tidak masuk akal disebut fobia.

Musa menceritakan sebuah kejahatan dari generasi pertama bangsa Israel. Mereka tidak percaya bahwa TUHAN sanggup menolong mereka menaklukkan seluruh negeri Kanaan. Mereka gentar karena penduduk Kanaan itu tangguh dan biasa berperang. Selain itu, mereka jatuh ke dalam fobia akibat hoaks yang disebar oleh sepuluh mata-mata (28, bdk. Bil 13:32)

Musa membandingkan respons generasi pertama dengan generasi kedua. Kata 'Amori' menjadi penghubung kedua generasi itu. Generasi pertama diperhadapkan dengan wilayah orang Amori dan merasa takut (19). Ide mengirim mata mata mengindikasikan ketakutan mereka. Sebaliknya, generasi kedua berani bertempur dan menang atas raja orang Amori (4). Hal ini diceritakan Musa bukan untuk menyombongkan generasi muda. Ia hanya ingin mengingatkan apa yang bisa terjadi jika mereka benar-benar percaya kepada TUHAN.

Kalau begitu, apakah membuat rencana atau mencari informasi selalu mencerminkan kurangnya iman? Tidak demikian! Motivasi di dalam hati kitalah penentunya. Orang yang tidak beriman mencari informasi untuk membenarkan ketakutannya. Sebaliknya, bagi orang percaya, membuat rencana adalah wujud dari pertanggungjawaban iman. Ia melakukan penyelidikan karena ia percaya kepada Allah.

Apakah Anda merasa gentar pada hari-hari ini? Mungkin kegentaran yang kita alami cukup rasional. Menurut hitung hitungan di atas kertas, daya saing kita rendah, kemampuan finansial kita lemah, sumber daya kita terbatas. Kita tidak menyangkali hal-hal itu.

Namun, kita memiliki Allah yang melampaui segala rasionalitas manusia. Dia memampukan kita untuk menaklukkan setiap 'Amori' di dalam hidup kita. Berdoalah agar Tuhan berkenan mengangkat segala ketakutan kita dan menggantinya dengan kedamaian dan keberanian. Dengar Tuhan berkata: "Jangan gentar dan jangan takut!" [PHM]

Rabu, 15 Oktober 2025

Santapan Harian

Mendekat, Bukan Menjauh 
Lukas 22:39-46 

Dalam perkembangan perlindungan fisik, dahulu manusia menggunakan perisai, sekarang menggunakan baju antipeluru. Lalu, bagaimana dengan alat perlindungan rohani? Nah, ini tertulis dalam Lukas 22:39-46.

Yesus menuju ke Bukit Zaitun, dan murid-murid-Nya mengikuti Dia (39). Setibanya di sana Ia berkata kepada mereka, "Berdoalah supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan" (40). Lalu, Yesus berlutut dan berdoa. Ia mendapat kekuatan dan makin sungguh berdoa. Selesai berdoa, Ia bangkit menghampiri murid-murid-Nya yang tidur karena dukacita (45). Yesus berkata, "Bangunlah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan" (46).

Yesus merasakan sesuatu yang menakutkan dan menyakitkan, yang digambarkan dengan cawan. Yesus berdoa dan memohon supaya dijauhkan dari cawan itu. Dalam doa itulah Yesus mendapat kekuatan sehingga Ia pun tidak memikirkan perihal cawan lagi.

Berbeda dengan Yesus, murid-murid yang mengalami dukacita, tidur, dan tidak berdoa. Pelajaran bagi kita, berdoalah supaya kita tidak jatuh ke dalam pencobaan.

Pencobaan bukan saja berupa hal menakutkan atau menyakitkan. Bisa saja, ada seseorang atau sesuatu yang berusaha menarik, memikat, dan menguasai seseorang untuk berbuat dosa. Wujudnya berupa godaan untuk berbuat dosa. Sesudah kita mengikuti godaan itu, barulah kita menyadari telah berbuat dosa. Banyak orang Kristen menjauh dari Tuhan pada saat menghadapi pencobaan. Akibatnya, mereka menjadi tidak berdaya, terbuai ke dalam pencobaan sehingga jatuh ke dalam dosa. Ada yang merasa kuat, namun pada akhirnya jatuh ke dalam dosa juga.

Yesus mengajarkan supaya kita mendekat kepada Tuhan saat kita menghadapi pencobaan. Ada janji Tuhan, kita tidak akan jatuh ke dalam pencobaan jika mendekat kepada-Nya. Bagaimana kita bisa mendekat kepada Tuhan? Berdoa! Hal ini Yesus katakan di awal dan di akhir bacaan kita, dua kali; ini menandakan sesuatu yang sangat penting. Jadi, marilah kita berdoa senantiasa! [DLT]

Rabu, 08 Oktober 2025

Santapan Harian

Tetap Berjagalah! 
Lukas 21:34-38 

Saat kita memiliki barang berharga, kita memproteksinya dengan pengaman agar tidak rusak atau hilang. Rumah dijaga satpam dan dipasang alarm. Gawai baru diberi pelindung agar tidak tergores jika terjatuh. Kendaraan diasuransikan. Antisipasi kita lakukan sebelum ada masalah atau kerusakan.

Apabila barang berharga saja kita jaga sedemikian rupa, lalu bagaimana dengan hidup kita sendiri? Apa yang sudah kita persiapkan untuk menanti kedatangan Tuhan? Tentu persiapan kita lebih dari sekadar menjaga barang berharga yang kita miliki, bukan?

Hari Tuhan akan segera datang, dan banyak orang berspekulasi, memperkirakan kapan hal itu akan terjadi. Akan tetapi, tak seorang pun tahu kapan waktunya, selain Allah sendiri. Daripada mengira ngira, lebih baik kita fokus pada kehendak Tuhan.

Yesus memperingatkan pengikut-Nya untuk selalu berjaga-jaga. Artinya, kita hidup dengan kesadaran penuh bahwa setiap saat adalah kesempatan untuk menyenangkan hati Tuhan. Ada juga peringatan agar menjaga hati dari pesta pora dan kemabukan serta kepentingan duniawi yang bisa saja menjerat kita (34). Bukan asal berjaga jaga, tetapi berjaga sambil berdoa.

Doa bukan sekadar interaksi kita dengan Allah. Dengan berdoa kita dikuatkan melawan godaan dan tetap teguh dalam iman di tengah badai kehidupan. Berdoa juga membuat kita peka terhadap kehendak Tuhan dan menolong kita untuk tetap fokus pada perkara yang kekal.

Yesus sendiri memberi contoh mengajar di Bait Allah (37), dan banyak orang datang kepada-Nya. Teladan ini mengingatkan kita untuk memiliki disiplin rohani yang konsisten setiap hari.

Banyak orang menyibukkan diri dengan hal-hal duniawi, mengejar hal-hal yang fana, bahkan sampai meninggalkan imannya. Banyak juga orang yang lebih memilih harta dan tawaran kesenangan sesaat. Namun, bukan hal itu yang Tuhan Yesus kehendaki. Yesus mau kita menjadikan doa dan firman Tuhan sebagai prioritas dalam hidup kita. Mari kita berjaga secara aktif, bukan dengan menunggu secara pasif. [SLM]

Minggu, 28 September 2025

Santapan Harian

Manusia Bukanlah Benda 
Lukas 20:9-19 

Di dalam budaya kapitalisme industri, manusia sama seperti alam dianggap sebagai sumber daya. Karenanya ada istilah sumber daya alam dan sumber daya manusia. Tidaklah heran di dalam budaya ini sesama diperlakukan seperti alat untuk keuntungan diri.

Ahli-ahli Taurat dan imam-imam kepala digambarkan seperti pekerja kebun angur yang tidak tahu diuntung.

Mereka menganiaya hamba pemilik yang meminta bagian tuan yang empunya kebun (10). Kesabaran tuan pemilik kebun terlihat ketika sampai tiga kali mengutus hambanya (tiga: gambaran genap, sempurna;

12). Tak berhenti di sini, bahkan sang tuan mengutus anak yang sangat dikasihinya karena berpikir para petani ini bisa menjadi segan (13). Ironisnya, mereka membunuh anak itu tanpa perasaan (15).

Cerita tragis ini adalah peringatan Yesus kepada ahli-ahli Taurat dan Imam-imam kepala (19). Dengan peringatan ini, Yesus rindu mereka dapat berefleksi dan bertobat. Ini adalah teguran kasih, namun sangat keras atas mereka para pemimpin agama, yang melihat kepemilikan lebih penting daripada hidup dan nyawa sesama. Untuk kepemilikan ini, mereka rela menyakiti sesama manusia, bahkan membunuh orang yang tidak berdosa. Yesus tegas menyatakan akan ada penghakiman yang besar bagi orang-orang tersebut jika tidak bertobat. Sayangnya, apa yang diperbuat Yesus sama sekali tidak mengorek hati nurani mereka, justru hasrat meniadakan Yesus menjadi makin besar (19). Hukum Taurat yang menekankan kasih kepada sesama, tidak lagi bersuara di hati mereka.

Apakah Saudara dan saya memperlakukan sesama kita hanya sebagai alat atau benda yang bisa digunakan untuk keuntungan diri kita pribadi?

Sesama kita bukanlah sesuatu, tetapi seseorang yang Tuhan ciptakan untuk kita kasihi dan untuk mengasihi kita. Mari minta kepekaan untuk terus berhati-hati dan tidak terpengaruh ketika hidup di dalam zaman yang memperlakukan orang seperti alat atau benda demi kepentingan diri. Ingatlah bahwa manusia, sesama kita, jauh lebih berharga daripada sebuah benda! [JHN]

Sabtu, 27 September 2025

Renungan Harian

Brutalnya Tokoh Agama
Lukas 19:45-48

Kejahatan yang paling mengerikan adalah kejahatan yang dilakukan di ritus sakral agama. Terlebih lagi ketika hal tersebut dilakukan oleh para pemuka agama. Kenyataan inilah yang kita lihat dari bacaan kita hari ini.

Para imam kepala, ahli-ahli Taurat, dan orang-orang terkemuka di negeri itu berusaha mengakhiri hidup Yesus (48). Barangkali hal ini dipicu oleh kekesalan mereka akan sikap Yesus yang merusak bisnis mereka di Bait Suci (45). Juga, menyakitkannya kata-kata tajam Yesus yang secara tidak langsung menyatakan mereka "penyamun", padahal mereka adalah para pemuka agama, ahli kitab, dan orang-orang besar yang biasa mendapatkan hormat dari umat Israel.

Namun, oleh mereka, kesucian Bait Allah ternodai. Pelataran khusus di Bait Suci untuk orang asing berdoa, malah mereka jadikan tempat bisnis yang menguntungkan mereka sendiri dan merugikan orang banyak. Tidaklah heran, Yesus menegur dengan sangat keras (46). Mereka adalah para tokoh agama dan tidak seharusnya hal tersebut terjadi. Bait Suci tidak hanya seperti tempat bisnis, bahkan tempat yang merugikan orang banyak. Mereka seperti mengalami perampokan atas nama Tuhan dan ibadah.

Akan tetapi, teguran ini tidak membuat mereka bertobat, malahan mereka berusaha mencari celah untuk dapat membinasakan Yesus. Bayangkan, hal ini direncanakan para tokoh agama dan dilakukan di tempat paling sakral umat Israel. Lebih parah lagi, mereka merencanakan hal itu karena mereka takut kekuasaan mereka terdampak. Mereka takut kehilangan muka dan tidak mau kehilangan pengaruh di hadapan orang banyak.

Ketika kita menjadi orang-orang penting di gereja, hati-hatilah! Kita melihat hal yang mengerikan dan tidak manusiawi bisa terjadi di tempat yang sangat sakral dan dilakukan oleh tokoh-tokoh terkemuka secara agama. Kita juga tidak kebal dengan hal itu. Mari kita menyadari dan berhati-hati, serta saling mengingatkan. Mari kita datang kepada Tuhan dengan berserah penuh dan meminta Tuhan senantiasa membimbing kita. [JHN]

Baca dan Renungkan 

Lukas 19:45-48

Bait Allah di Yerusalem adalah pusat ibadah dan tempat yang sangat dihormati oleh orang Yahudi. Di pelataran Bait Allah, banyak pedagang dan penukar uang yang melakukan transaksi perdagangan. Mereka mengambil keuntungan dari para peziarah yang datang ke Yerusalem untuk beribadah.

Yesus masuk ke Bait Allah dan mulai mengusir orang-orang yang berjual beli di sana. Yesus menegaskan bahwa Bait Allah seharusnya menjadi tempat untuk berdoa dan beribadah, bukan tempat untuk berbisnis yang merugikan orang lain. Yesus mengajar setiap hari di Bait Allah, namun para imam kepala, ahli Taurat, dan pemuka-pemuka bangsa berusaha membinasakan-Nya. Akan tetapi, mereka tidak menemukan cara untuk melakukannya, karena seluruh rakyat terpukau oleh pengajaran-Nya.

Apa saja yang Anda baca?
1. Ke manakah Yesus dan apa yang Ia lakukan? (45)
2. Apa yang Yesus katakan? (46)
3. Apa yang Yesus lakukan di Bait Allah dan apa yang hendak dilakukan oleh Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat? (47-48)

Apa pesan yang Allah sampaikan kepada Anda?
1. Apakah Anda melayani dan beribadah dengan motivasi yang murni atau ada kepentingan pribadi yang Anda kejar?
2. Bagaimana Anda bisa memastikan bahwa motivasi Anda dalam pelayanan adalah untuk memuliakan Tuhan?
3. Apakah Anda berani berbicara dan bertindak untuk kebenaran seperti Yesus?

Apa respons Anda?
1. Bagaimana ajaran Yesus memengaruhi cara Anda berinteraksi dengan orang lain dan menghadapi tantangan hidup?
2. Bagaimana Anda menghadapi konflik atau ketidaksepakatan dengan pemegang otoritas keagamaan atau pemimpin di sekitar Anda?

Pokok Doa:
Mari kita berdoa agar kita menjauhkan diri dari kepentingan pribadi yang dapat merusak pelayanan.

Jumat, 26 September 2025

Santapan Harian

Pahlawan Murung 
Lukas 19:28-44 

Kisah kepahlawanan pastilah menginspirasi. Apalagi ketika kita ada di dalam kondisi hidup yang sangat berat, kita rindu hadirnya "pahlawan" yang dapat mengatasi permasalahan itu. Kita merindukan ada pahlawan yang dapat menolong kita untuk menyelesaikan masalah besar dalam hidup kita.

Kisah kepahlawanan Yudas Makabeus, seorang pahlawan yang menjadi kebanggaan bangsa Yahudi tidak asing lagi. Kehebatan Yudas saat melawan tirani penjajah Yunani masih melekat dalam benak rakyat Yerusalem. Pada saat memasuki gerbang kota, rakyat menyambut Yesus dengan daun palem dan penuh sorak sorai. Rakyat berharap Yesus berani seperti Yudas Makabeus, melawan tirani Imperium Roma.

Karya mukjizat Yesus membuat pengharapan rakyat akan kemerdekaan kembali hidup. Mereka menyambut Yesus bak seorang pahlawan yang mereka harapkan akan memerdekakan mereka kembali dari tangan kekuasaan asing (37-38).

Ganjilnya, pahlawan yang mereka harapkan malah memilih keledai muda, bukan kuda gagah (36). Ini adalah sebuah tanda kesederhanaan, bukan kegagahan. Tak hanya itu, sembari orang-orang bersukacita menyambut dan merayakan kedatangan-Nya, dituliskan pahlawan ini menangis melihat kota Yerusalem (41). Hal ini bukan karena Ia lemah, melainkan hati-Nya yang sangat lembut terluka karena melihat akhir kehancuran total kota yang dikasihi-Nya di tangan kekuasaan Romawi (42-44). Apalagi Ia tahu kisah kepahlawanan yang Dia jalani tidak seperti yang orang-orang Israel percayai dan dambakan.

Kadang kita rindu Tuhan berkarya secara dahsyat menyatakan pertolongan-Nya di dalam kisah perjalanan hidup kita yang berat. Kita percaya, berharap, berdoa, dan bahkan berpuasa untuk melihat kisah itu menjadi kenyataan. Akan tetapi, karya-Nya selalu tidak pernah dapat kita pahami dan terjadi tidak selalu seperti yang kita mau. Apakah kita mau belajar rela membuka hati kita untuk Yesus, Sang Pahlawan itu, dan merelakan Dia secara bebas berkarya atas kisah hidup kita sesuai kehendak-Nya? [JHN]

Kamis, 25 September 2025

Santapan Harian

Pahlawan Murung 
Lukas 19:28-44 

Kisah kepahlawanan pastilah menginspirasi. Apalagi ketika kita ada di dalam kondisi hidup yang sangat berat, kita rindu hadirnya "pahlawan" yang dapat mengatasi permasalahan itu. Kita merindukan ada pahlawan yang dapat menolong kita untuk menyelesaikan masalah besar dalam hidup kita.

Kisah kepahlawanan Yudas Makabeus, seorang pahlawan yang menjadi kebanggaan bangsa Yahudi tidak asing lagi. Kehebatan Yudas saat melawan tirani penjajah Yunani masih melekat dalam benak rakyat Yerusalem. Pada saat memasuki gerbang kota, rakyat menyambut Yesus dengan daun palem dan penuh sorak sorai. Rakyat berharap Yesus berani seperti Yudas Makabeus, melawan tirani Imperium Roma.

Karya mukjizat Yesus membuat pengharapan rakyat akan kemerdekaan kembali hidup. Mereka menyambut Yesus bak seorang pahlawan yang mereka harapkan akan memerdekakan mereka kembali dari tangan kekuasaan asing (37-38).

Ganjilnya, pahlawan yang mereka harapkan malah memilih keledai muda, bukan kuda gagah (36). Ini adalah sebuah tanda kesederhanaan, bukan kegagahan. Tak hanya itu, sembari orang-orang bersukacita menyambut dan merayakan kedatangan-Nya, dituliskan pahlawan ini menangis melihat kota Yerusalem (41). Hal ini bukan karena Ia lemah, melainkan hati-Nya yang sangat lembut terluka karena melihat akhir kehancuran total kota yang dikasihi-Nya di tangan kekuasaan Romawi (42-44). Apalagi Ia tahu kisah kepahlawanan yang Dia jalani tidak seperti yang orang-orang Israel percayai dan dambakan.

Kadang kita rindu Tuhan berkarya secara dahsyat menyatakan pertolongan-Nya di dalam kisah perjalanan hidup kita yang berat. Kita percaya, berharap, berdoa, dan bahkan berpuasa untuk melihat kisah itu menjadi kenyataan. Akan tetapi, karya-Nya selalu tidak pernah dapat kita pahami dan terjadi tidak selalu seperti yang kita mau. Apakah kita mau belajar rela membuka hati kita untuk Yesus, Sang Pahlawan itu, dan merelakan Dia secara bebas berkarya atas kisah hidup kita sesuai kehendak-Nya? [JHN]

Selasa, 23 September 2025

RENUNGAN HARIAN

Yesus, Minta Dijamu?
Lukas 19:1-10

Sebagai orang Kristen, kepada kita selalu diajarkan agar kita berkorban bagi sesama demi menyatakan cinta Tuhan yang besar. Ya, pengorbanan Kristus adalah sesuatu yang besar, tetapi apakah hanya itu yang Dia teladankan bagi kita?

Ketika Yesus datang ke suatu daerah pastilah banyak orang berpengaruh dan terpandang yang ingin menjamu-Nya makan. Uniknya, perhatian Yesus justru tertuju kepada seorang pemungut cukai yang bertubuh pendek (3).

Masyarakat Yahudi pada masa itu mendeskripsikan seorang pemungut cukai sebagai orang berdosa yang najis dan harus dihindari. Namanya Zakheus. Ia sangat kaya, tetapi kesepian karena orang Yahudi dilarang duduk dan makan bersama serta berelasi dengan pendosa seperti dirinya. Ia hanya ingin melihat Yesus. Ia pun berpikir mustahil menjamu Yesus. Dia sadar akan dirinya yang berdosa dan ketidaklayakan dirinya. Apalagi Yesus adalah seorang Rabi, dan dia sudah melihat bagaimana tokoh agama di sekitarnya dan masyarakat Yahudi melihat dan memperlakukan dirinya.

Meskipun demikian, Yesus malah menghampiri Zakheus dan meminta dijamu olehnya (5). Sepertinya, ini pertama kali setelah sekian lama Zakheus tak pernah makan bersama seorang sahabat. Kali ini seorang Rabi, bahkan Juru Selamat mau bersahabat dengan dia, dan ini mendatangkan sukacita yang besar bagi dirinya yang penuh dosa. Hari itu menjadi hari yang tak akan pernah dilupakan oleh Zakheus.

Yesus tak hanya meneladankan kepada kita sebuah pengorbanan diri. Dia juga menunjukkan teladan untuk berkorban memberi diri dijamu dan dikasihi orang yang berdosa. Yesus mau duduk gembira dan tertawa bersama dengan mereka yang disisihkan oleh masyarakat. Ia tidak takut kehilangan reputasinya dan dianggap tidak rohani. Maukah kita sebagai gereja belajar mengasihi sesama kita dengan memberi diri untuk dikasihi? Mari kita belajar menjadi sahabat bagi sesama dengan duduk, makan, minum, tertawa, bercerita, dan berterima kasih untuk kebaikan sesama yang mengasihi kita. Mari kita saling menjamu dalam kasih! [JHN]


Minggu, 21 September 2025

Santapan Harian

Penderitaan Sudah di Depan Mata 
Lukas 18:31-34 

Ketiga kalinya Yesus mengungkapkan penderitaan yang akan Ia alami kepada murid-murid-Nya. Yesus mengajak murid-murid-Nya pergi ke Yerusalem, tempat di mana Dia akan disalibkan, seperti yang sudah dinubuatkan para nabi (31). Yesus akan ditangkap, diolok-olok, dihina, diludahi, dicambuk, dan dibunuh; namun, pada hari yang ketiga Ia akan bangkit (32, 33). Akan tetapi, para murid belum mengerti arti perkataan Yesus (34).

Tiga kali, pertanda berita ini sangat penting. Yesus menjelaskan kepada murid-murid-Nya bahwa Dia akan mengalami penderitaan dan di Yerusalem peristiwa itu akan terjadi. Saat itu Yesus sedang berjalan menuju Yerusalem, pertanda penderitaan sudah di depan mata. Para murid tetap belum mengerti penjelasan Yesus bahwa saat penderitaan akan tiba. Bisa saja harapan para murid adalah Yesus akan menjadi raja yang akan menaklukkan kekuasaan Romawi yang saat itu berkuasa atas Yerusalem. Dia akan mengembalikan kejayaan Yerusalem seperti masa kerajaan Daud. Yerusalem akan kembali menjadi pusat perhatian bangsa-bangsa sekitarnya. Jadi, sekalipun berkali-kali Yesus menjelaskan tentang penderitaan yang akan dialami-Nya, hal itu tidak menjadi bagian pemikiran para murid. Mereka berjalan bersama Yesus, namun pikirannya tidak searah dengan pikiran Yesus. Penderitaan yang Yesus maksudkan adalah penyaliban dan kematian-Nya yang masih tersembunyi bagi para murid.

Penderitaan sudah di depan mata, apakah tetap kita putuskan berjalan bersama Yesus? Dibenci, dihina, diolok-olok, dicambuk, dibunuh adalah bagian kita sebagai berkat kesungguhan mengikut Yesus. Ingat, penderitaan dan kematian bukan akhir segalanya. Yesus dibangkitkan pada hari ketiga. Hal itu menjadi jaminan bahwa setiap orang yang percaya dan sungguh-sungguh mengikut Yesus seumur hidupnya akan dimuliakan seperti Yesus. Peringatan bagi kita: jangan bertahan dengan pikiran kita sendiri, ikutilah alur pikiran Yesus. Penderitaan akan tetap ada, namun bila tetap berjalan bersama Yesus kita akan kuat menghadapinya. [NRG]

Sabtu, 20 September 2025

Santapan Harian

Kuputuskan Mengikut Yesus 
Lukas 18:28-30 

Setelah perjumpaan Yesus dengan seorang pemimpin yang kaya, Petrus angkat bicara: "Kami telah meninggalkan apa yang kami miliki dan mengikut Engkau" (28). Menurut Petrus dan teman-temannya, mereka sudah meninggalkan harta bendanya. Walaupun mereka tidak tergolong orang kaya, mereka sudah meninggalkan pekerjaan dan keluarganya untuk mengikut Yesus.

Petrus dan murid-murid yang lain tampaknya juga memiliki pergumulan tentang hidup kekal. Kemudian, Yesus menghibur Petrus dan teman-temannya dengan mengatakan: "Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang karena Kerajaan Allah meninggalkan rumah, atau istri, atau saudara, atau orang tua, atau anak-anaknya, akan menerima kembali berlipat ganda pada masa ini, dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal" (29, 30).

Alasan mengikut Yesus adalah karena Kerajaan Allah, bukan karena motivasi yang lain! Bukan karena alasan politik, atau alasan ekonomi. Bukan juga karena alasan keamanan dan sebagainya. Kalau benar mengikut Yesus itu dengan kesungguhan, penuh pengorbanan, dan komitmen, mereka akan beroleh hasil yang berlipat ganda. Maksudnya mereka bukan akan menjadi kaya raya, atau istri dan anak-anak mereka akan bertambah banyak, tetapi mereka akan beroleh keselamatan dan hidup yang kekal. Itu bukan nanti, tetapi kini dan akan datang. Keselamatan dan hidup kekal merupakan harta surga yang jauh lebih berarti daripada harta dunia yang sifatnya sementara dan bisa rusak.

Pelajaran bagi kita ketika memutuskan mengikut Yesus, bukan hanya apa yang kita miliki yang harus ditanggalkan, melainkan di dalam diri kita sendiri ada perubahan pola pikir, kebiasaan, karakter, cara kerja, dan motivasi. Yesus hidup sederhana, rendah hati, rela berkorban, dan selalu memikirkan orang banyak. Oleh sebab itu, penderitaan adalah bagian dari hidup-Nya. Mengikut Yesus berarti kita ikut dalam penderitaan-Nya memperjuangkan kebenaran. Namun, ada janji: mengikut Yesus tidak akan sia-sia! [NRG]

Statistik Pengunjung

Wikipedia

Hasil penelusuran