Cari Blog Ini

Senin, 26 Januari 2026

Renungan Pagi Tanggal 27 Januari 2026

Kasih setia TUHAN tak berkesudahan, rahmat-Nya selalu baru tiap pagi.”

Ratapan 3:22–23

Pagi selalu datang dengan dua kemungkinan. Kita bisa membawanya sebagai beban, kelanjutan dari masalah kemarin. Atau kita bisa menerimanya sebagai anugerah, ruang baru yang Tuhan sediakan untuk memulai kembali.

Firman ini menegaskan satu hal penting: rahmat Tuhan tidak pernah basi. Ia tidak bergantung pada keberhasilan atau kegagalan kita kemarin. Saat mata terbuka pagi ini, itu tanda bahwa Tuhan masih memberi kesempatan. Bukan karena kita layak, tetapi karena Dia setia.

Sering kali kita bangun dengan pikiran yang sudah penuh: target, kecemasan, luka lama, atau rasa bersalah. Renungan pagi mengajak kita berhenti sejenak dan menyadari bahwa sebelum kita berbuat apa pun hari ini, Tuhan sudah lebih dulu mengasihi. Dari situlah kekuatan sejati muncul.

Maka hari ini, jalani langkah dengan hati yang tenang. Kerjakan tanggung jawab dengan jujur. Hadapi orang lain dengan kelembutan. Bila gagal, ingat bahwa sore nanti tidak akan menghapus rahmat yang sudah Tuhan curahkan pagi ini.

Doa singkat:
Tuhan, terima kasih untuk pagi yang baru. Ajari aku melihat hari ini dengan iman, bukan dengan ketakutan. Perbarui hatiku seperti Engkau memperbarui rahmat-Mu.Amin ✅

Jumat, 23 Januari 2026

Belajar Mengenal Tuhan dengan Iman

Renungan Hari Ini
Mazmur 119:105

“Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.”

Ayat ini berbicara dengan bahasa yang sangat sederhana, tetapi maknanya dalam. Firman Tuhan tidak digambarkan sebagai sorot lampu besar yang menerangi seluruh masa depan sekaligus, melainkan pelita. Pelita hanya memberi terang secukupnya untuk satu langkah ke depan. Di situlah letak kebijaksanaannya✅

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering ingin kepastian penuh sebelum melangkah. Kita ingin tahu hasil akhir, jalan lurus tanpa risiko, dan masa depan tanpa tanda tanya. Namun Mazmur 119:105 mengajarkan bahwa Tuhan lebih sering menuntun kita langkah demi langkah. Firman-Nya cukup untuk hari ini, cukup untuk keputusan yang sedang kita hadapi sekarang✅

Pelita juga berarti kedekatan. Cahaya itu berada di dekat kaki, bukan jauh di langit. Artinya, firman Tuhan bekerja di wilayah yang sangat konkret: pilihan kecil, sikap hati, cara berbicara, cara memperlakukan orang lain. Iman tidak hanya hidup dalam ide besar, tetapi dalam kesetiaan pada terang kecil yang Tuhan berikan setiap hari✅

Renungan ini mengingatkan kita bahwa kegelapan bukan alasan untuk berhenti berjalan. Selama firman Tuhan kita pegang, terang selalu tersedia. Mungkin jalannya belum seluruhnya terlihat, tetapi satu langkah dalam terang lebih aman daripada berlari dalam gelap✅

Doa Singkat
Tuhan, ajar aku percaya pada terang firman-Mu, meski aku belum melihat seluruh jalan. Beri aku keberanian untuk setia melangkah hari ini, satu langkah demi satu langkah, bersama-Mu. Amin✅

Minggu, 11 Januari 2026

Dibentuk oleh Tuhan

Yohanes 6:60-66

Sebuah adagium Latin berbunyi: 'Veritas odium parit', yang kurang lebih berarti: 'Kebenaran menimbulkan kebencian'. Kebenaran tidak selalu berjalan lurus dengan penerimaan, sering kali justru menimbulkan kebencian dan perlawanan serta penolakan. Hal ini terlihat dalam bacaan kita.

Banyak orang yang mengikuti Yesus terguncang ketika Ia berkata mengenai diri-Nya sebagai Roti Kehidupan (60). Mereka tidak siap menerima ajaran itu karena mereka melihatnya secara harfiah dan hal itu bertentangan dengan ajaran Yahudi yang mereka jalani. Reaksi para murid yang kemudian bersungut-sungut menunjukkan ketidaknyamanan mereka, namun Yesus justru semakin mengonfrontasi mereka (61-65). Hal itu menunjukkan bahwa kebenaran yang disampaikan Yesus tidak akan diubah karena penerimaan dan kesukaan orang kepada-Nya. Akhirnya, banyak dari mereka yang mengundurkan diri dan tidak lagi mengikuti Yesus (66).

Di sini sangat terlihat bahwa orang-orang itu memiliki imaji dan konstruksi tentang Yesus ketika mereka mengikuti-Nya. Mereka tidak datang kepada Yesus sebagai gelas kosong untuk diisi oleh-Nya. Mereka membentuk Yesus di dalam kepala mereka dan berharap Yesus bertindak seperti yang mereka imajinasikan sehingga mereka tidak siap ketika Yesus ingin membentuk mereka seturut ekspektasi-Nya! Hal yang luar biasa adalah, Yesus tidak menahan kepergian orang-orang itu dan tetap memberikan kebebasan memilih kepada mereka.

Saudara, mari bertanya kepada diri sendiri: Apakah kita termasuk orang yang bisa menerima kebenaran sekalipun pahit, atau memilih untuk menolaknya jika menyinggung kita? Apa reaksi kita ketika ditegur atas kekurangan dan kelalaian kita? Apa kita membela diri, marah, menyangkal, atau sibuk mengklarifikasi?

Dalam relasi dengan Tuhan, ingatlah bahwa seharusnya kitalah yang dibentuk Tuhan seturut kehendak-Nya, bukan sebaliknya! Dengan hati yang mau terus belajar, bentukan Tuhan akan membuat kita menjadi pengikut-pengikut-Nya yang tangguh, kuat, dan tetap setia sampai akhir. Amin

Senin, 29 Desember 2025

Renungan Pagi

Bait Allah yang Baru
Yohanes 2:13-25

Bait Allah adalah tempat kehadiran Allah di tengah-tengah umat-Nya. Melalui peristiwa yang tertulis dalam bacaan ini, Yesus sedang menunjukkan apa arti Bait Allah.

Peristiwa ini terjadi saat perayaan Paskah Yahudi sudah dekat. Pada perayaan ini, banyak orang dari berbagai bangsa datang ke Yerusalem untuk beribadah di Bait Allah. Namun, suasana di halaman Bait Allah telah berubah menjadi pasar yang sibuk dengan aktivitas perdagangan. Para pedagang menjual lembu, domba, dan merpati untuk keperluan kurban persembahan, sementara para penukar uang melayani kebutuhan para peziarah yang datang dari berbagai wilayah dengan mata uang yang berbeda. Yesus marah dan mengusir mereka, "Jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan!" (14-16). Tujuan utama Bait Allah sebagai tempat beribadah kepada Allah dan rumah doa bagi segala bangsa (bdk. Yes 56:7) telah digantikan dengan aktivitas perdagangan.

Yesus memberi makna baru yang radikal akan Bait Allah. Keterhubungan manusia dengan Allah tidak lagi dibatasi oleh tempat fisik atau ritual agama, melainkan di dalam diri-Nya. Melalui kematian dan kebangkitan-Nya, tubuh-Nya menjadi Bait Allah yang baru (21). Di dalam kematian-Nya, Ia menghapus semua penghalang yang memisahkan manusia dari Allah, baik penghalang etnis, sosial, maupun budaya, sehingga semua orang dapat beribadah kepada Allah. Tak ada lagi dinding pemisah antara Allah dan manusia. Melalui kebangkitan-Nya, Yesus membuka jalan bagi semua orang untuk datang kepada Allah tanpa penghalang. Siapa pun yang percaya kepada-Nya dapat masuk ke dalam hadirat Allah.

Kita dapat beribadah kepada Allah karena Yesus mati di atas kayu salib dan bangkit pada hari ketiga. Seperti Yesus membuka jalan bagi semua bangsa, kita juga dipanggil untuk membuka gereja dan komunitas bagi siapa pun yang mencari kebenaran dan kasih Allah. Gereja dan komunitas Kristen harus menjadi saksi Kristus yang terbuka, tidak eksklusif agar semua orang mengalami karya penebusan Yesus✅


Rabu, 10 Desember 2025

Risalah

DAMPAK NEGATIF MEGANG HP BERLEBIHAN BAGI ANAK-ANAK

1. Mengganggu perkembangan otak, screen time berlebihan mengurangi stimulasi penting seperti ngobrol, bergerak, dan bermain → bahasa & sosial bisa terlambat.

2. Anak jadi susah diatur
Jika HP dipakai untuk menenangkan, anak belajar “rewel = dapat HP,” sehingga kontrol emosi jadi lemah.

3. Mudah mar4h saat kuota/sinyal bermasalah
Game & video memberi dopamin cepat. Ketika berhenti mendadak, muncul frustrasi.

4. Sulit konsentrasi
Otak terbiasa dengan stimulasi cepat, sehingga belajar di dunia nyata terasa membosankan.

5. Makan & belajar terganggu
HP membuat anak lupa waktu, makan sambil nonton, tidur telat, dan jadwal belajar berantakan.

6. Risiko cemas & murung meningkat
Kurang tidur, konten negatif, dan kurang interaksi dapat meningkatkan risiko gangguan emosional.

Wamena, 10 Desember 2025

Minggu, 23 November 2025

Ingatlah akan Kebesaran-Nya

Ulangan 11:1-7

Mengalami kuasa Allah memampukan umat mengenal Dia dengan benar. Pengenalan yang benar akan memampukan umat menjadi pengikut-Nya yang setia (1). Musa mengingatkan bangsa Israel akan kebesaran kuasa TUHAN yang telah mereka alami. TUHAN memelihara mereka di padang gurun (2-5). Dari pengalaman mereka, nyatalah bahwa TUHAN yang mereka sembah dahsyat dan kuat! Seharusnya, tidak ada lagi keraguan mengikut Dia.

TUHAN, Allah yang mereka sembah adalah adil dan benar. Ia menghukum orang yang menista-Nya. Datan dan Abiram, anak-anak Eliab, keturunan Ruben mengajak orang-orang untuk melawan Musa, mereka memberontak terhadap TUHAN dengan melawan utusan-Nya ini. TUHAN pun menghukum dengan mengangakan mulut tanah dan menelan mereka bersama seisi rumahnya dan segala yang mereka pelihara di tengah seluruh orang Israel (6-7). TUHAN tidak hanya menunjukkan kebesaran-Nya melalui mukjizat, tetapi juga melalui hukuman yang dahsyat terhadap orang yang memberontak. Mereka melihat segala perbuatan besar yang dilakukan TUHAN dengan mata mereka sendiri. Jadi, mereka sebenarnya adalah saksi mata karya agung Allah.

Orang yang sudah mengenal Tuhan dengan benar akan mampu mengasihi dan melakukan kewajibannya terhadap Dia dengan senantiasa berpegang pada segala ketetapan, peraturan, dan perintah-Nya dengan tulus. Motivasi yang benar dalam melakukannya adalah dengan mengingat kebesaran Tuhan. Pesan bagi kita: dengan mengingat kebesaran Tuhan dan berpegang pada ketetapan, peraturan, dan perintah-Nya, kita makin menyadari karya Allah dalam hidup kita. Ingatlah juga murka Allah beserta dampaknya ketika kita memberontak terhadap ketetapan-Nya.

Setiap orang pasti pernah mengalami dan menyaksikan kebesaran Tuhan dalam hidupnya. Jadikanlah pengalaman itu sebagai motivasi untuk tetap setia mengasihi Tuhan. Ingatlah selalu akan kebesaran-Nya, dan jadikan sebagai energi melakukan ketetapan-Nya. [MRG]

Selasa, 04 November 2025

Santapan Harian

Jangan Gentar, Jangan Takut! 
Ulangan 1:19-33 

Kita mengenal dua jenis ketakutan. Kata 'gentar' merujuk kepada ketakutan yang disertai alasan yang masuk akal. Sedang ketakutan karena alasan yang tidak masuk akal disebut fobia.

Musa menceritakan sebuah kejahatan dari generasi pertama bangsa Israel. Mereka tidak percaya bahwa TUHAN sanggup menolong mereka menaklukkan seluruh negeri Kanaan. Mereka gentar karena penduduk Kanaan itu tangguh dan biasa berperang. Selain itu, mereka jatuh ke dalam fobia akibat hoaks yang disebar oleh sepuluh mata-mata (28, bdk. Bil 13:32)

Musa membandingkan respons generasi pertama dengan generasi kedua. Kata 'Amori' menjadi penghubung kedua generasi itu. Generasi pertama diperhadapkan dengan wilayah orang Amori dan merasa takut (19). Ide mengirim mata mata mengindikasikan ketakutan mereka. Sebaliknya, generasi kedua berani bertempur dan menang atas raja orang Amori (4). Hal ini diceritakan Musa bukan untuk menyombongkan generasi muda. Ia hanya ingin mengingatkan apa yang bisa terjadi jika mereka benar-benar percaya kepada TUHAN.

Kalau begitu, apakah membuat rencana atau mencari informasi selalu mencerminkan kurangnya iman? Tidak demikian! Motivasi di dalam hati kitalah penentunya. Orang yang tidak beriman mencari informasi untuk membenarkan ketakutannya. Sebaliknya, bagi orang percaya, membuat rencana adalah wujud dari pertanggungjawaban iman. Ia melakukan penyelidikan karena ia percaya kepada Allah.

Apakah Anda merasa gentar pada hari-hari ini? Mungkin kegentaran yang kita alami cukup rasional. Menurut hitung hitungan di atas kertas, daya saing kita rendah, kemampuan finansial kita lemah, sumber daya kita terbatas. Kita tidak menyangkali hal-hal itu.

Namun, kita memiliki Allah yang melampaui segala rasionalitas manusia. Dia memampukan kita untuk menaklukkan setiap 'Amori' di dalam hidup kita. Berdoalah agar Tuhan berkenan mengangkat segala ketakutan kita dan menggantinya dengan kedamaian dan keberanian. Dengar Tuhan berkata: "Jangan gentar dan jangan takut!" [PHM]

Rabu, 15 Oktober 2025

Santapan Harian

Mendekat, Bukan Menjauh 
Lukas 22:39-46 

Dalam perkembangan perlindungan fisik, dahulu manusia menggunakan perisai, sekarang menggunakan baju antipeluru. Lalu, bagaimana dengan alat perlindungan rohani? Nah, ini tertulis dalam Lukas 22:39-46.

Yesus menuju ke Bukit Zaitun, dan murid-murid-Nya mengikuti Dia (39). Setibanya di sana Ia berkata kepada mereka, "Berdoalah supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan" (40). Lalu, Yesus berlutut dan berdoa. Ia mendapat kekuatan dan makin sungguh berdoa. Selesai berdoa, Ia bangkit menghampiri murid-murid-Nya yang tidur karena dukacita (45). Yesus berkata, "Bangunlah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan" (46).

Yesus merasakan sesuatu yang menakutkan dan menyakitkan, yang digambarkan dengan cawan. Yesus berdoa dan memohon supaya dijauhkan dari cawan itu. Dalam doa itulah Yesus mendapat kekuatan sehingga Ia pun tidak memikirkan perihal cawan lagi.

Berbeda dengan Yesus, murid-murid yang mengalami dukacita, tidur, dan tidak berdoa. Pelajaran bagi kita, berdoalah supaya kita tidak jatuh ke dalam pencobaan.

Pencobaan bukan saja berupa hal menakutkan atau menyakitkan. Bisa saja, ada seseorang atau sesuatu yang berusaha menarik, memikat, dan menguasai seseorang untuk berbuat dosa. Wujudnya berupa godaan untuk berbuat dosa. Sesudah kita mengikuti godaan itu, barulah kita menyadari telah berbuat dosa. Banyak orang Kristen menjauh dari Tuhan pada saat menghadapi pencobaan. Akibatnya, mereka menjadi tidak berdaya, terbuai ke dalam pencobaan sehingga jatuh ke dalam dosa. Ada yang merasa kuat, namun pada akhirnya jatuh ke dalam dosa juga.

Yesus mengajarkan supaya kita mendekat kepada Tuhan saat kita menghadapi pencobaan. Ada janji Tuhan, kita tidak akan jatuh ke dalam pencobaan jika mendekat kepada-Nya. Bagaimana kita bisa mendekat kepada Tuhan? Berdoa! Hal ini Yesus katakan di awal dan di akhir bacaan kita, dua kali; ini menandakan sesuatu yang sangat penting. Jadi, marilah kita berdoa senantiasa! [DLT]

Rabu, 08 Oktober 2025

Santapan Harian

Tetap Berjagalah! 
Lukas 21:34-38 

Saat kita memiliki barang berharga, kita memproteksinya dengan pengaman agar tidak rusak atau hilang. Rumah dijaga satpam dan dipasang alarm. Gawai baru diberi pelindung agar tidak tergores jika terjatuh. Kendaraan diasuransikan. Antisipasi kita lakukan sebelum ada masalah atau kerusakan.

Apabila barang berharga saja kita jaga sedemikian rupa, lalu bagaimana dengan hidup kita sendiri? Apa yang sudah kita persiapkan untuk menanti kedatangan Tuhan? Tentu persiapan kita lebih dari sekadar menjaga barang berharga yang kita miliki, bukan?

Hari Tuhan akan segera datang, dan banyak orang berspekulasi, memperkirakan kapan hal itu akan terjadi. Akan tetapi, tak seorang pun tahu kapan waktunya, selain Allah sendiri. Daripada mengira ngira, lebih baik kita fokus pada kehendak Tuhan.

Yesus memperingatkan pengikut-Nya untuk selalu berjaga-jaga. Artinya, kita hidup dengan kesadaran penuh bahwa setiap saat adalah kesempatan untuk menyenangkan hati Tuhan. Ada juga peringatan agar menjaga hati dari pesta pora dan kemabukan serta kepentingan duniawi yang bisa saja menjerat kita (34). Bukan asal berjaga jaga, tetapi berjaga sambil berdoa.

Doa bukan sekadar interaksi kita dengan Allah. Dengan berdoa kita dikuatkan melawan godaan dan tetap teguh dalam iman di tengah badai kehidupan. Berdoa juga membuat kita peka terhadap kehendak Tuhan dan menolong kita untuk tetap fokus pada perkara yang kekal.

Yesus sendiri memberi contoh mengajar di Bait Allah (37), dan banyak orang datang kepada-Nya. Teladan ini mengingatkan kita untuk memiliki disiplin rohani yang konsisten setiap hari.

Banyak orang menyibukkan diri dengan hal-hal duniawi, mengejar hal-hal yang fana, bahkan sampai meninggalkan imannya. Banyak juga orang yang lebih memilih harta dan tawaran kesenangan sesaat. Namun, bukan hal itu yang Tuhan Yesus kehendaki. Yesus mau kita menjadikan doa dan firman Tuhan sebagai prioritas dalam hidup kita. Mari kita berjaga secara aktif, bukan dengan menunggu secara pasif. [SLM]

Minggu, 28 September 2025

Santapan Harian

Manusia Bukanlah Benda 
Lukas 20:9-19 

Di dalam budaya kapitalisme industri, manusia sama seperti alam dianggap sebagai sumber daya. Karenanya ada istilah sumber daya alam dan sumber daya manusia. Tidaklah heran di dalam budaya ini sesama diperlakukan seperti alat untuk keuntungan diri.

Ahli-ahli Taurat dan imam-imam kepala digambarkan seperti pekerja kebun angur yang tidak tahu diuntung.

Mereka menganiaya hamba pemilik yang meminta bagian tuan yang empunya kebun (10). Kesabaran tuan pemilik kebun terlihat ketika sampai tiga kali mengutus hambanya (tiga: gambaran genap, sempurna;

12). Tak berhenti di sini, bahkan sang tuan mengutus anak yang sangat dikasihinya karena berpikir para petani ini bisa menjadi segan (13). Ironisnya, mereka membunuh anak itu tanpa perasaan (15).

Cerita tragis ini adalah peringatan Yesus kepada ahli-ahli Taurat dan Imam-imam kepala (19). Dengan peringatan ini, Yesus rindu mereka dapat berefleksi dan bertobat. Ini adalah teguran kasih, namun sangat keras atas mereka para pemimpin agama, yang melihat kepemilikan lebih penting daripada hidup dan nyawa sesama. Untuk kepemilikan ini, mereka rela menyakiti sesama manusia, bahkan membunuh orang yang tidak berdosa. Yesus tegas menyatakan akan ada penghakiman yang besar bagi orang-orang tersebut jika tidak bertobat. Sayangnya, apa yang diperbuat Yesus sama sekali tidak mengorek hati nurani mereka, justru hasrat meniadakan Yesus menjadi makin besar (19). Hukum Taurat yang menekankan kasih kepada sesama, tidak lagi bersuara di hati mereka.

Apakah Saudara dan saya memperlakukan sesama kita hanya sebagai alat atau benda yang bisa digunakan untuk keuntungan diri kita pribadi?

Sesama kita bukanlah sesuatu, tetapi seseorang yang Tuhan ciptakan untuk kita kasihi dan untuk mengasihi kita. Mari minta kepekaan untuk terus berhati-hati dan tidak terpengaruh ketika hidup di dalam zaman yang memperlakukan orang seperti alat atau benda demi kepentingan diri. Ingatlah bahwa manusia, sesama kita, jauh lebih berharga daripada sebuah benda! [JHN]

Sabtu, 27 September 2025

Renungan Harian

Brutalnya Tokoh Agama
Lukas 19:45-48

Kejahatan yang paling mengerikan adalah kejahatan yang dilakukan di ritus sakral agama. Terlebih lagi ketika hal tersebut dilakukan oleh para pemuka agama. Kenyataan inilah yang kita lihat dari bacaan kita hari ini.

Para imam kepala, ahli-ahli Taurat, dan orang-orang terkemuka di negeri itu berusaha mengakhiri hidup Yesus (48). Barangkali hal ini dipicu oleh kekesalan mereka akan sikap Yesus yang merusak bisnis mereka di Bait Suci (45). Juga, menyakitkannya kata-kata tajam Yesus yang secara tidak langsung menyatakan mereka "penyamun", padahal mereka adalah para pemuka agama, ahli kitab, dan orang-orang besar yang biasa mendapatkan hormat dari umat Israel.

Namun, oleh mereka, kesucian Bait Allah ternodai. Pelataran khusus di Bait Suci untuk orang asing berdoa, malah mereka jadikan tempat bisnis yang menguntungkan mereka sendiri dan merugikan orang banyak. Tidaklah heran, Yesus menegur dengan sangat keras (46). Mereka adalah para tokoh agama dan tidak seharusnya hal tersebut terjadi. Bait Suci tidak hanya seperti tempat bisnis, bahkan tempat yang merugikan orang banyak. Mereka seperti mengalami perampokan atas nama Tuhan dan ibadah.

Akan tetapi, teguran ini tidak membuat mereka bertobat, malahan mereka berusaha mencari celah untuk dapat membinasakan Yesus. Bayangkan, hal ini direncanakan para tokoh agama dan dilakukan di tempat paling sakral umat Israel. Lebih parah lagi, mereka merencanakan hal itu karena mereka takut kekuasaan mereka terdampak. Mereka takut kehilangan muka dan tidak mau kehilangan pengaruh di hadapan orang banyak.

Ketika kita menjadi orang-orang penting di gereja, hati-hatilah! Kita melihat hal yang mengerikan dan tidak manusiawi bisa terjadi di tempat yang sangat sakral dan dilakukan oleh tokoh-tokoh terkemuka secara agama. Kita juga tidak kebal dengan hal itu. Mari kita menyadari dan berhati-hati, serta saling mengingatkan. Mari kita datang kepada Tuhan dengan berserah penuh dan meminta Tuhan senantiasa membimbing kita. [JHN]

Baca dan Renungkan 

Lukas 19:45-48

Bait Allah di Yerusalem adalah pusat ibadah dan tempat yang sangat dihormati oleh orang Yahudi. Di pelataran Bait Allah, banyak pedagang dan penukar uang yang melakukan transaksi perdagangan. Mereka mengambil keuntungan dari para peziarah yang datang ke Yerusalem untuk beribadah.

Yesus masuk ke Bait Allah dan mulai mengusir orang-orang yang berjual beli di sana. Yesus menegaskan bahwa Bait Allah seharusnya menjadi tempat untuk berdoa dan beribadah, bukan tempat untuk berbisnis yang merugikan orang lain. Yesus mengajar setiap hari di Bait Allah, namun para imam kepala, ahli Taurat, dan pemuka-pemuka bangsa berusaha membinasakan-Nya. Akan tetapi, mereka tidak menemukan cara untuk melakukannya, karena seluruh rakyat terpukau oleh pengajaran-Nya.

Apa saja yang Anda baca?
1. Ke manakah Yesus dan apa yang Ia lakukan? (45)
2. Apa yang Yesus katakan? (46)
3. Apa yang Yesus lakukan di Bait Allah dan apa yang hendak dilakukan oleh Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat? (47-48)

Apa pesan yang Allah sampaikan kepada Anda?
1. Apakah Anda melayani dan beribadah dengan motivasi yang murni atau ada kepentingan pribadi yang Anda kejar?
2. Bagaimana Anda bisa memastikan bahwa motivasi Anda dalam pelayanan adalah untuk memuliakan Tuhan?
3. Apakah Anda berani berbicara dan bertindak untuk kebenaran seperti Yesus?

Apa respons Anda?
1. Bagaimana ajaran Yesus memengaruhi cara Anda berinteraksi dengan orang lain dan menghadapi tantangan hidup?
2. Bagaimana Anda menghadapi konflik atau ketidaksepakatan dengan pemegang otoritas keagamaan atau pemimpin di sekitar Anda?

Pokok Doa:
Mari kita berdoa agar kita menjauhkan diri dari kepentingan pribadi yang dapat merusak pelayanan.

Jumat, 26 September 2025

Santapan Harian

Pahlawan Murung 
Lukas 19:28-44 

Kisah kepahlawanan pastilah menginspirasi. Apalagi ketika kita ada di dalam kondisi hidup yang sangat berat, kita rindu hadirnya "pahlawan" yang dapat mengatasi permasalahan itu. Kita merindukan ada pahlawan yang dapat menolong kita untuk menyelesaikan masalah besar dalam hidup kita.

Kisah kepahlawanan Yudas Makabeus, seorang pahlawan yang menjadi kebanggaan bangsa Yahudi tidak asing lagi. Kehebatan Yudas saat melawan tirani penjajah Yunani masih melekat dalam benak rakyat Yerusalem. Pada saat memasuki gerbang kota, rakyat menyambut Yesus dengan daun palem dan penuh sorak sorai. Rakyat berharap Yesus berani seperti Yudas Makabeus, melawan tirani Imperium Roma.

Karya mukjizat Yesus membuat pengharapan rakyat akan kemerdekaan kembali hidup. Mereka menyambut Yesus bak seorang pahlawan yang mereka harapkan akan memerdekakan mereka kembali dari tangan kekuasaan asing (37-38).

Ganjilnya, pahlawan yang mereka harapkan malah memilih keledai muda, bukan kuda gagah (36). Ini adalah sebuah tanda kesederhanaan, bukan kegagahan. Tak hanya itu, sembari orang-orang bersukacita menyambut dan merayakan kedatangan-Nya, dituliskan pahlawan ini menangis melihat kota Yerusalem (41). Hal ini bukan karena Ia lemah, melainkan hati-Nya yang sangat lembut terluka karena melihat akhir kehancuran total kota yang dikasihi-Nya di tangan kekuasaan Romawi (42-44). Apalagi Ia tahu kisah kepahlawanan yang Dia jalani tidak seperti yang orang-orang Israel percayai dan dambakan.

Kadang kita rindu Tuhan berkarya secara dahsyat menyatakan pertolongan-Nya di dalam kisah perjalanan hidup kita yang berat. Kita percaya, berharap, berdoa, dan bahkan berpuasa untuk melihat kisah itu menjadi kenyataan. Akan tetapi, karya-Nya selalu tidak pernah dapat kita pahami dan terjadi tidak selalu seperti yang kita mau. Apakah kita mau belajar rela membuka hati kita untuk Yesus, Sang Pahlawan itu, dan merelakan Dia secara bebas berkarya atas kisah hidup kita sesuai kehendak-Nya? [JHN]

Kamis, 25 September 2025

Santapan Harian

Pahlawan Murung 
Lukas 19:28-44 

Kisah kepahlawanan pastilah menginspirasi. Apalagi ketika kita ada di dalam kondisi hidup yang sangat berat, kita rindu hadirnya "pahlawan" yang dapat mengatasi permasalahan itu. Kita merindukan ada pahlawan yang dapat menolong kita untuk menyelesaikan masalah besar dalam hidup kita.

Kisah kepahlawanan Yudas Makabeus, seorang pahlawan yang menjadi kebanggaan bangsa Yahudi tidak asing lagi. Kehebatan Yudas saat melawan tirani penjajah Yunani masih melekat dalam benak rakyat Yerusalem. Pada saat memasuki gerbang kota, rakyat menyambut Yesus dengan daun palem dan penuh sorak sorai. Rakyat berharap Yesus berani seperti Yudas Makabeus, melawan tirani Imperium Roma.

Karya mukjizat Yesus membuat pengharapan rakyat akan kemerdekaan kembali hidup. Mereka menyambut Yesus bak seorang pahlawan yang mereka harapkan akan memerdekakan mereka kembali dari tangan kekuasaan asing (37-38).

Ganjilnya, pahlawan yang mereka harapkan malah memilih keledai muda, bukan kuda gagah (36). Ini adalah sebuah tanda kesederhanaan, bukan kegagahan. Tak hanya itu, sembari orang-orang bersukacita menyambut dan merayakan kedatangan-Nya, dituliskan pahlawan ini menangis melihat kota Yerusalem (41). Hal ini bukan karena Ia lemah, melainkan hati-Nya yang sangat lembut terluka karena melihat akhir kehancuran total kota yang dikasihi-Nya di tangan kekuasaan Romawi (42-44). Apalagi Ia tahu kisah kepahlawanan yang Dia jalani tidak seperti yang orang-orang Israel percayai dan dambakan.

Kadang kita rindu Tuhan berkarya secara dahsyat menyatakan pertolongan-Nya di dalam kisah perjalanan hidup kita yang berat. Kita percaya, berharap, berdoa, dan bahkan berpuasa untuk melihat kisah itu menjadi kenyataan. Akan tetapi, karya-Nya selalu tidak pernah dapat kita pahami dan terjadi tidak selalu seperti yang kita mau. Apakah kita mau belajar rela membuka hati kita untuk Yesus, Sang Pahlawan itu, dan merelakan Dia secara bebas berkarya atas kisah hidup kita sesuai kehendak-Nya? [JHN]

Selasa, 23 September 2025

RENUNGAN HARIAN

Yesus, Minta Dijamu?
Lukas 19:1-10

Sebagai orang Kristen, kepada kita selalu diajarkan agar kita berkorban bagi sesama demi menyatakan cinta Tuhan yang besar. Ya, pengorbanan Kristus adalah sesuatu yang besar, tetapi apakah hanya itu yang Dia teladankan bagi kita?

Ketika Yesus datang ke suatu daerah pastilah banyak orang berpengaruh dan terpandang yang ingin menjamu-Nya makan. Uniknya, perhatian Yesus justru tertuju kepada seorang pemungut cukai yang bertubuh pendek (3).

Masyarakat Yahudi pada masa itu mendeskripsikan seorang pemungut cukai sebagai orang berdosa yang najis dan harus dihindari. Namanya Zakheus. Ia sangat kaya, tetapi kesepian karena orang Yahudi dilarang duduk dan makan bersama serta berelasi dengan pendosa seperti dirinya. Ia hanya ingin melihat Yesus. Ia pun berpikir mustahil menjamu Yesus. Dia sadar akan dirinya yang berdosa dan ketidaklayakan dirinya. Apalagi Yesus adalah seorang Rabi, dan dia sudah melihat bagaimana tokoh agama di sekitarnya dan masyarakat Yahudi melihat dan memperlakukan dirinya.

Meskipun demikian, Yesus malah menghampiri Zakheus dan meminta dijamu olehnya (5). Sepertinya, ini pertama kali setelah sekian lama Zakheus tak pernah makan bersama seorang sahabat. Kali ini seorang Rabi, bahkan Juru Selamat mau bersahabat dengan dia, dan ini mendatangkan sukacita yang besar bagi dirinya yang penuh dosa. Hari itu menjadi hari yang tak akan pernah dilupakan oleh Zakheus.

Yesus tak hanya meneladankan kepada kita sebuah pengorbanan diri. Dia juga menunjukkan teladan untuk berkorban memberi diri dijamu dan dikasihi orang yang berdosa. Yesus mau duduk gembira dan tertawa bersama dengan mereka yang disisihkan oleh masyarakat. Ia tidak takut kehilangan reputasinya dan dianggap tidak rohani. Maukah kita sebagai gereja belajar mengasihi sesama kita dengan memberi diri untuk dikasihi? Mari kita belajar menjadi sahabat bagi sesama dengan duduk, makan, minum, tertawa, bercerita, dan berterima kasih untuk kebaikan sesama yang mengasihi kita. Mari kita saling menjamu dalam kasih! [JHN]


Minggu, 21 September 2025

Santapan Harian

Penderitaan Sudah di Depan Mata 
Lukas 18:31-34 

Ketiga kalinya Yesus mengungkapkan penderitaan yang akan Ia alami kepada murid-murid-Nya. Yesus mengajak murid-murid-Nya pergi ke Yerusalem, tempat di mana Dia akan disalibkan, seperti yang sudah dinubuatkan para nabi (31). Yesus akan ditangkap, diolok-olok, dihina, diludahi, dicambuk, dan dibunuh; namun, pada hari yang ketiga Ia akan bangkit (32, 33). Akan tetapi, para murid belum mengerti arti perkataan Yesus (34).

Tiga kali, pertanda berita ini sangat penting. Yesus menjelaskan kepada murid-murid-Nya bahwa Dia akan mengalami penderitaan dan di Yerusalem peristiwa itu akan terjadi. Saat itu Yesus sedang berjalan menuju Yerusalem, pertanda penderitaan sudah di depan mata. Para murid tetap belum mengerti penjelasan Yesus bahwa saat penderitaan akan tiba. Bisa saja harapan para murid adalah Yesus akan menjadi raja yang akan menaklukkan kekuasaan Romawi yang saat itu berkuasa atas Yerusalem. Dia akan mengembalikan kejayaan Yerusalem seperti masa kerajaan Daud. Yerusalem akan kembali menjadi pusat perhatian bangsa-bangsa sekitarnya. Jadi, sekalipun berkali-kali Yesus menjelaskan tentang penderitaan yang akan dialami-Nya, hal itu tidak menjadi bagian pemikiran para murid. Mereka berjalan bersama Yesus, namun pikirannya tidak searah dengan pikiran Yesus. Penderitaan yang Yesus maksudkan adalah penyaliban dan kematian-Nya yang masih tersembunyi bagi para murid.

Penderitaan sudah di depan mata, apakah tetap kita putuskan berjalan bersama Yesus? Dibenci, dihina, diolok-olok, dicambuk, dibunuh adalah bagian kita sebagai berkat kesungguhan mengikut Yesus. Ingat, penderitaan dan kematian bukan akhir segalanya. Yesus dibangkitkan pada hari ketiga. Hal itu menjadi jaminan bahwa setiap orang yang percaya dan sungguh-sungguh mengikut Yesus seumur hidupnya akan dimuliakan seperti Yesus. Peringatan bagi kita: jangan bertahan dengan pikiran kita sendiri, ikutilah alur pikiran Yesus. Penderitaan akan tetap ada, namun bila tetap berjalan bersama Yesus kita akan kuat menghadapinya. [NRG]

Sabtu, 20 September 2025

Santapan Harian

Kuputuskan Mengikut Yesus 
Lukas 18:28-30 

Setelah perjumpaan Yesus dengan seorang pemimpin yang kaya, Petrus angkat bicara: "Kami telah meninggalkan apa yang kami miliki dan mengikut Engkau" (28). Menurut Petrus dan teman-temannya, mereka sudah meninggalkan harta bendanya. Walaupun mereka tidak tergolong orang kaya, mereka sudah meninggalkan pekerjaan dan keluarganya untuk mengikut Yesus.

Petrus dan murid-murid yang lain tampaknya juga memiliki pergumulan tentang hidup kekal. Kemudian, Yesus menghibur Petrus dan teman-temannya dengan mengatakan: "Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang karena Kerajaan Allah meninggalkan rumah, atau istri, atau saudara, atau orang tua, atau anak-anaknya, akan menerima kembali berlipat ganda pada masa ini, dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal" (29, 30).

Alasan mengikut Yesus adalah karena Kerajaan Allah, bukan karena motivasi yang lain! Bukan karena alasan politik, atau alasan ekonomi. Bukan juga karena alasan keamanan dan sebagainya. Kalau benar mengikut Yesus itu dengan kesungguhan, penuh pengorbanan, dan komitmen, mereka akan beroleh hasil yang berlipat ganda. Maksudnya mereka bukan akan menjadi kaya raya, atau istri dan anak-anak mereka akan bertambah banyak, tetapi mereka akan beroleh keselamatan dan hidup yang kekal. Itu bukan nanti, tetapi kini dan akan datang. Keselamatan dan hidup kekal merupakan harta surga yang jauh lebih berarti daripada harta dunia yang sifatnya sementara dan bisa rusak.

Pelajaran bagi kita ketika memutuskan mengikut Yesus, bukan hanya apa yang kita miliki yang harus ditanggalkan, melainkan di dalam diri kita sendiri ada perubahan pola pikir, kebiasaan, karakter, cara kerja, dan motivasi. Yesus hidup sederhana, rendah hati, rela berkorban, dan selalu memikirkan orang banyak. Oleh sebab itu, penderitaan adalah bagian dari hidup-Nya. Mengikut Yesus berarti kita ikut dalam penderitaan-Nya memperjuangkan kebenaran. Namun, ada janji: mengikut Yesus tidak akan sia-sia! [NRG]

Rabu, 17 September 2025

Santapan Harian
Doa yang Dibenarkan 
Lukas 18:9-14 

Jika ada doa yang dibenarkan, apakah ada doa yang tidak dibenarkan? Dalam perumpamaan ini ada dua bentuk sikap orang berdoa, yaitu sikap doa orang Farisi dan sikap doa pemungut cukai.

Orang Farisi berdoa dengan memegahkan diri dan merendahkan orang di sekitarnya. Dia membanggakan dirinya karena tidak sama dengan orang lain, ia bukan perampok, ia bukan pezina, ia bukan juga seperti pemungut cukai (11). Ia berpuasa dua kali seminggu dan rutin memberi persepuluhan (12). Sementara pemungut cukai berdoa dengan merendahkan hati, mengakui kesalahannya dengan memukul-mukul dadanya. Ia meminta pengasihan Tuhan untuk mengampuninya (13). Yesus berkata kepada murid-murid-Nya bahwa yang dibenarkan Allah adalah doa yang mengakui kesalahan dan memohon belas kasihan Tuhan (14).

Sebaik-baiknya orang pasti pernah melakukan kesalahan. Sejahat-jahatnya orang pasti ada kebaikan yang pernah ia lakukan. Pastilah ada perbuatan baik pemungut cukai walaupun di mata manusia lebih banyak jahatnya. Dia tidak mengungkapkan kebaikan-kebaikannya karena amal yang diperbuatnya tidak mampu menyelamatkannya. Namun, dia memohon kepada Tuhan yang penuh belas kasihan dan berkuasa menyelamatkan.

Semua yang kita lakukan tidak pernah luput dari mata Tuhan. Biarlah perbuatan baik itu dirasakan semua orang dan perbuatan jahat itu kita jauhkan dari hadapan Tuhan dan sesama. Mengaku dosa adalah sikap orang yang rendah hati. Pada saat mengaku dosa ada proses dalam diri untuk menjadi lebih baik. Inilah yang Tuhan kehendaki, mengaku dosa dan tidak melakukannya lagi!

Semua orang berdosa di hadapan Tuhan dan kebaikan-kebaikan yang kita perbuat itu tidak bisa menghapus dosa. Hanya Tuhan yang mampu mengampuni dosa. Tuhan adalah Bapa yang pengasih. Dia akan selalu mengampuni mereka yang datang mengakui kesalahan dan dosa-dosanya. Sebagai respons kita, mari meneladan sikap pemungut cukai yang dengan rendah hati mau berdoa dan meminta pengasihan Tuhan. [NRG]

Selasa, 16 September 2025

Santapan Harian

Siang Malam Berseru 
Lukas 18:1-8 

Pernahkah permintaan kita seolah-olah ditolak Tuhan? Lantas apa yang kita lakukan? Apakah kita berhenti berseru?

Seorang janda selalu datang kepada hakim karena ada orang yang berbuat tidak adil kepadanya (3). Beberapa kali hakim ini menolak permintaan janda tersebut (4). Namun, perempuan ini terus saja datang, tidak berhenti, atau tidak menyerah. Meskipun ditolak, dia tidak berputus asa. Si hakim berpikir, "Ah daripada aku terus disusahkan, baiklah kukabulkan permintaan ibu ini." Meskipun hakim ini tidak mengenal Tuhan akhirnya dia membela hak janda itu (5). Bayangkan, orang yang tidak mengenal Tuhan saja bisa berbuat baik, membela hak seorang janda. Meskipun dia hanya memikirkan dirinya sendiri, tetapi dia sudah berbuat baik. Bagaimana dengan Allah, apakah Dia akan menolak seruan anak-anak-Nya?

Sekalipun Tuhan menolak pasti ada rencana-Nya yang lebih baik. Pertanyaannya, apakah kita berhenti berseru? Perempuan janda itu tidak berhenti berseru. Siang malam dia berseru sampai akhirnya permintaannya dikabulkan. Siang dan malam ia berseru, ini merupakan tindakan iman. Ia tidak dibatasi dengan jumlah berapa kali harus berseru, tidak dibatasi ruang dan waktu, siang ataupun malam.

Dalam seruan kita kepada Tuhan, banyak hal yang perlu diceritakan dan diungkapkan. Pelbagai hal yang kita lakukan dan alami setiap hari perlu diungkapkan. Meski tidak satu pun kita ceritakan, sebenarnya Tuhan tahu. Namun, Tuhan rindu agar anak-anak-Nya selalu bercerita kepada-Nya tentang segala sesuatu. Tentang pergumulan hidup, termasuk tentang perbuatan-perbuatan orang lain yang tidak adil kepada kita.

Tuhan senang ketika kita terus-menerus berseru kepada-Nya. Seperti seorang bapa yang senang melihat anak-anaknya yang selalu berterus terang kepadanya. Tuhan tidak akan mengulur-ulur waktu memberikan pertolongan kepada anak-anak-Nya yang dikasihi-Nya. Dia akan segera memberi keadilan kepada mereka yang berseru kepada-Nya tanpa henti, itulah janji Tuhan. Perintah bagi kita, tetaplah berseru! [NRG]

Senin, 15 September 2025

Santapan Harian

Kuasa Iman dan Ucapan Syukur 
Lukas 17 

Iman dan ucapan syukur ibarat dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan. Iman berkaitan dengan keyakinan kita kepada Allah yang menyelamatkan kita, sedangkan ucapan syukur adalah respons atas anugerah Allah. Seorang yang sadar akan anugerah Allah dalam hidupnya akan merespons dengan syukur, penundukan, dan penyerahan diri kepada Allah.

Dalam perjalanannya ke Yerusalem, Tuhan Yesus bertemu dengan sepuluh orang kusta di sebuah desa dan meminta belas kasihan dari-Nya (11-13). Singkat cerita, Tuhan Yesus menunjukkan belas kasihan kepada kesepuluh orang kusta tersebut. Sesuai dengan aturan yang berlaku, Tuhan Yesus menyuruh mereka memperlihatkan diri kepada imam supaya dinyatakan tahir (14, bdk. Im 14). Pada titik ini, kesepuluh orang kusta tersebut menunjukkan iman dan ketaatan mereka dan hal itu berbuahkan hasil, yaitu mereka sembuh di tengah perjalanan menuju kepada imam.

Hal yang menarik di sini adalah kesepuluh orang kusta ini memiliki pengalaman yang sama, yaitu disembuhkan oleh Tuhan Yesus dari penyakit kusta mereka. Namun, kita dapat melihat sebuah perbedaan yang sangat mendasar dari seorang kusta yang kembali kepada Yesus. Salah seorang dari antara kesepuluh orang kusta ini, tidak hanya menyadari bahwa ia telah sembuh, tetapi juga mengakui dengan imannya bahwa kesembuhan itu berasal dari Yesus Kristus. Hal itu terlihat dari respons yang ia berikan, yaitu memuliakan Allah, tersungkur menyembah Yesus, dan mengucap syukur (15-16). Ini adalah sikap iman yang benar, yaitu iman yang diikuti oleh penyembahan dan penyerahan diri kepada Allah atas anugerah-Nya. Hasilnya adalah ia mendapatkan predikat dari Tuhan Yesus yang tidak didapatkan oleh kesembilan lainnya, "... imanmu telah menyelamatkan engkau" (19).

Saat ini, apakah kita masih mengaku beriman kepada Tuhan? Apakah kita menyadari betapa besar anugerah yang Allah berikan dalam kehidupan kita? Terhadap anugerah Allah, apakah kita sudah merespons dengan hati penuh syukur, tunduk, dan menyerahkan diri kepada Allah? [ABL]

Rabu, 20 Agustus 2025

Santapan Harian Sumber Kebahagiaaan

Lukas 11:27-28 

Seorang lanjut usia merasa tak bahagia. Ia merasa sedih sehingga sering mengeluh karena dirasanya anak dan cucunya kurang memedulikannya. Ia merasa tidak bahagia karena keluarga, yang menurutnya adalah harta yang paling berharga, ternyata kurang memperhatikannya. Dan suatu hari ia sakit dan dirawat di ICU sebuah rumah sakit. Di sana ia menemukan sumber kebahagiaan; sumber itu bukan anak, cucu, harta, atau apa pun di dunia ini. Seorang perawat Kristen di ICU yang penuh kasih menyadarkannya bahwa sumber kebahagiaan itu adalah firman Tuhan. Perawat itu tidak hanya melayani secara medis, ia juga memperdengarkan renungan firman Tuhan dari gawainya dan selalu bercakap-cakap dengan lansia tersebut.

Cara pandang lansia itu mengingatkan kita pada apa yang dipikirkan seorang ibu yang tiba-tiba berteriak kepada Tuhan Yesus dari kerumunan banyak orang pada saat itu (27). Menanggapi teriakan tersebut, Tuhan Yesus secara implisit hendak mengatakan bahwa memang benar orang akan berbahagia saat anggota keluarganya melakukan hal-hal yang membanggakan atau menyenangkan hati. Namun, yang lebih berbahagia ialah orang yang mendengarkan firman Allah dan memeliharanya.

Mendengarkan firman Tuhan dan memeliharanya mengandung empat arti. Pertama, kita datang kepada Tuhan. Dengan datang kepada-Nya, kita menikmati hadirat dan kasih Tuhan yang penuh karunia. Damai sejahtera tumbuh dan menguatkan kita dalam menjalani hidup ini. Kedua, membuka telinga dan hati kita untuk diisi dan dikuasai firman Tuhan. Firman itu membantu kita menentukan pilihan dalam hidup kita. Ketiga, dengan pertolongan Roh Kudus, mari kita merenungkan firman Tuhan dan terus berusaha mewujudkan firman itu dalam hidup sehari-hari. Keempat, firman Tuhan itu bukan sekadar yang tertulis dalam Alkitab, melainkan juga adalah Sang Firman yang telah menjadi Manusia, yaitu Tuhan Yesus Kristus! Untuk itu mari kita dengar suara-Nya agar hidup kita bahagia sebab Dialah sumber kebahagiaan kita. [MTH]

Statistik Pengunjung

Wikipedia

Hasil penelusuran