Kebangkitan Kristus; Kebangkitan Orang-orang Kudus (1 Korintus 15:20-34)
Pada bagian ini Rasul Paulus meneguhkan kebenaran mengenai kebangkitan dari antara orang mati, kematian yang kudus, kematian di dalam Kristus,
I. Mengenai kebangkitan Kristus.
1. Karena Kristus benar-benar yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal (ay. 20). Ia telah benar-benar membangkitkan diri-Nya sendiri, dan Ia telah bangkit dengan ciri dan sifat yang sama, sebagai yang sulung dari orang-orang yang meninggal di dalam Dia. Sebagaimana Ia pasti telah bangkit, maka di dalam kebangkitan-Nya terdapat jaminan yang sebenar-benarnya bahwa orang-orang yang telah meninggal di dalam Dia akan bangkit seperti halnya tuaian bangsa Yahudi dahulu diterima dan diberkati melalui persembahan dan penerimaan buah-buah sulung. Sama seperti seluruh adonan juga dibuat kudus oleh pentahbisan roti sulung (Rm. 11:16), begitu juga tubuh Kristus secara keseluruhan, semua orang yang oleh iman telah dipersatukan kepada-Nya, dijamin kebangkitannya oleh ke bangkitan Kristus. Sebagaimana Ia telah bangkit, mereka juga akan bangkit, sama seperti adonan itu kudus karena roti sulung yang juga kudus. Ia tidak bangkit hanya untuk diri-Nya sendiri, tetapi bangkit sebagai kepala untuk tubuh, yaitu jemaat-Nya. Dan mereka yang telah meninggal dalam Yesus akan dikumpulkan Allah bersama-sama dengan Dia (1Tes. 4:14). Perhatikanlah, kebangkitan Kristus merupakan janji dan jaminan bagi kita, jika kita sungguh-sungguh percaya kepada-Nya. Karena Dia telah bangkit, kita juga akan dibangkitkan. Kita menjadi bagian dari adonan yang ditahbiskan, dan akan turut mengambil bagian dalam penerimaan dan perkenanan yang dikaruniakan kepada buah-buah sulung. Ini adalah alasan pertama yang digunakan oleh Rasul Paulus untuk menegaskan kebenaran ini, dan hal ini,
2. Digambarkan melalui sebuah perbandingan antara Adam yang pertama dan yang kedua. Sebab sama seperti maut datang oleh satu orang manusia, maka pantas jugalah kalau oleh satu orang manusia datang pula kelepasan dari maut itu, atau kebangkitan orang mati (ay. 21). Jadi, sebab sama seperti dalam persekutuan dengan Adam semua orang mati, demikian pula dalam persekutuan dengan Kristus semua orang akan dihidupkan kembali. Sebagaimana melalui dosa Adam yang pertama manusia mengalami kematian karena semuanya menerima tabiat dosa yang sama darinya, demikian jugalah melalui jasa dan kebangkitan Kristus semuanya memperoleh bagian di dalam Roh dan tabiat rohaniah-Nya, dihidupkan kembali dan memperoleh hidup yang kekal. Semua orang yang mati, mati karena dosa Adam. Menurut pengertian Rasul Paulus, semua orang yang dibangkitkan, dibangkitkan melalui jasa dan kuasa Kristus. Tetapi maksudnya tidaklah bahwa sebagaimana semua orang mati di dalam Adam, maka semua orang, tanpa kecuali, akan dihidupkan di dalam Kristus. Penjelasan Rasul Paulus membatasi makna umum seperti ini. Kristus bangkit sebagai buah sulung, maka semua orang yang menjadi milik-Nya (ay. 23) akan dibangkitkan juga. Oleh karena itu, ini tidak berarti bahwa semua orang akan dibangkitkan tanpa kecuali, melainkan tepatnya semua orang yang bangkit, dibangkitkan karena jasa kebangkitan Kristus, sehingga kebangkitan mereka itu disebabkan oleh manusia Kristus Yesus, sebagaimana kematian semua orang disebabkan oleh manusia yang pertama. Jadi, seperti oleh manusia masuk kematian, oleh manusia pula datang pembebasan. Dengan demikian sesuailah dengan hikmat ilahi bahwa sebagaimana Adam yang pertama menghancurkan keturunannya karena dosa, Adam yang kedua akan membangkitkan keturunan-Nya kepada kekekalan yang mulia.
3. Sebelum ia menyudahi pembahasannya, ia menyatakan bahwa akan ada urutan kebangkitan yang dapat diamati. Bagaimana tepatnya urutan itu tidak disebutkan di sini, namun dikatakan bahwa secara umum akan ada urutan. Mungkin orang-orang yang lebih dahulu dibangkitkan adalah mereka yang memiliki peringkat tertinggi dan telah melakukan pelayanan yang paling unggul, atau menanggung penderitaan kejam yang paling memilukan, atau mengalami kematian akibat penganiayaan yang mengerikan, bagi kepentingan Kristus. Di sini hanya dikatakan bahwa Kristus sebagai buah sulung akan dibangkitkan terlebih dahulu, dan sesudah itu mereka yang menjadi milik-Nya pada waktu kedatangan-Nya. Tidaklah berarti bahwa kebangkitan Kristus harus terjadi sebelum kebangkitan umat-Nya, supaya kebangkitan-Nya itu diletakkan sebagai dasar. Sama seperti orang-orang yang tinggal jauh dari Yerusalem tidak perlu pergi ke sana dan mempersembahkan buah-buah sulung itu, sebelum mereka dapat menganggap adonan itu kudus. Untuk menguduskan semuanya, mereka hanya perlu memisahkan dan mengkhususkan buah-buah sulung itu sampai buah-buah itu dapat dipersembahkan, yang dapat dilakukan kapan saja sejak saat hari raya Pentakosta sampai hari raya Pentahbisan Bait Suci. (Lihat penafsiran Uskup Agung Patrick atas Bil. 24:2). Persembahan buah-buah sulung inilah yang menguduskan adonan. Dengan demikian adonan itu menjadi kudus karena persembahan itu, walaupun persembahan itu dilakukan sebelum hasil tuaian dikumpulkan, hanya perlu disisihkan untuk maksud persembahan itu, dan kemudian dipersembahkan sebagaimana mestinya. Jadi, sesuai sifatnya kebangkitan Kristus harus mendahului kebangkitan orang-orang kudus-Nya, walaupun ada beberapa di antaranya yang mungkin telah bangkit terlebih dahulu sebelum Dia. Karena Ia telah bangkit, maka mereka bangkit. Perhatikanlah, orang orang yang menjadi milik Kristus harus dibangkitkan karena hubungan mereka dengan Dia.
II. Rasul Paulus memberikan alasan dengan melihat keberlangsungan dari kerajaan Sang Pengantara, yaitu yang berlangsung sampai semua musuh-musuh-Nya dihancurkan, dan yang terakhir dibinasakan ialah maut (ay. 24-26). Kristus telah bangkit, dan saat kebangkitan-Nya, Ia dipercayakan dengan kerajaan yang berdaulat, yang kepada-Nya telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi (Mat. 28:18), dan dikaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya setiap lutut akan bertekuk di hadapan-Nya, dan setiap lidah mengaku bahwa Dia adalah Tuhan (Flp. 2:9-11). Dan pemerintahan kerajaan ini akan tetap dipegang-Nya sampai semua pemerintahan, kekuasaan, dan kekuatan musuh dibinasakan (ay. 24), sampai semua musuh-Nya diletakkan di bawah kaki-Nya (ay. 25), dan sampai musuh yang terakhir dibinasakan, yaitu maut (ay. 26).
1. Alasan ini menyiratkan semua hal-hal khusus sebagai berikut:
(1) Bahwa Juruselamat kita bangkit dari kematian untuk memperoleh semua kuasa di tangan-Nya dan memegang pemerintahan suatu kerajaan, sebagai Pengantara: Sebab untuk itulah Kristus telah mati dan hidup kembali, supaya Ia menjadi Tuhan, baik atas orang-orang mati, maupun atas orang-orang hidup (Rm. 14:9).
(2) Bahwa kerajaan pengantaraan ini akan berakhir setidaknya sampai dapat membawa umat-Nya dengan selamat menuju kemuliaan dan menaklukkan semua musuh-Nya dan musuh-musuh umat-Nya: Kemudian tibalah kesudahannya (ay. 24).
(3) Bahwa kerajaan itu akan tetap berlanjut sampai segala kekuasaan musuh dibinasakan dan semua musuh diletakkan di bawah kaki-Nya (ay. 24-25).
(4) Bahwa di antara semua musuh-Nya, maut harus dibinasakan (ay. 26) atau dimusnahkan, kuasa maut atas umat-Nya harus ditiadakan. Sampai sejauh itulah Rasul Paulus memberikan pernyataannya secara jelas, tetapi ia meninggalkan kita untuk menyimpulkan sendiri bahwa orang-orang kudus harus bangkit, kalau tidak maut dan kubur akan berkuasa atas mereka, juga kuasa kerajaan Juruselamat kita tidak akan dapat mengalahkan musuh terakhir umat-Nya dan membatalkan kuasanya. Ketika orang-orang kudus hidup kembali dan tidak dapat mati lagi, maka pada saat itulah maut akan ditiadakan, yang harus terjadi sebelum kerajaan pengantaraan dari Juruselamat kita itu diserahkan kepada Allah Bapa, yang harus terjadi tepat pada waktunya. Oleh karena itu, orang-orang kudus akan hidup kembali dan tidak dapat mati lagi. Inilah tujuan dari penjelasan yang diberikan Rasul Paulus. Akan tetapi,
2. Rasul Paulus menyampaikan beberapa petunjuk yang patut diperhatikan, seperti,
(1) Bahwa Juruselamat kita, sebagai manusia dan sebagai pengantara antara Allah dan manusia memiliki kuasa rajawi yang dipercayakan kepada-Nya, yaitu sebuah kerajaan: Segala sesuatu telah ditaklukkan-Nya di bawah kaki-Nya, Ia sendiri yang telah menaklukkan segala sesuatu di bawah kaki-Nya (ay. 27). Sebagai manusia, segala kuasa-Nya harus diperoleh dari pelimpahan kuasa. Dan walaupun tugas pengantaraan-Nya itu mengharuskan adanya kodrat ilahi-Nya, namun sebagai Pengantara tidak begitu jelas Ia memiliki sifat-sifat Allah. Ia bertindak sebagai seorang pribadi yang berdiri di antara Allah dan manusia, memiliki kedua sifat itu, manusiawi dan ilahi, sebab Ia harus mendamaikan kedua belah pihak, Allah dan manusia. Ia menerima penugasan dan kuasa dari Allah Bapa untuk bertindak dalam jabatan ini. Sang Bapa tampil di dalam seluruh masa penyelenggaraan ini, dalam keagungan dan kuasa Allah: sedangkan Sang Anak, yang menjadi manusia, tampil sebagai pelayan Bapa, walaupun Ia sendiri adalah Allah sama seperti Bapa. Bagian ini juga tidak boleh dipahami bahwa Ia memiliki kekuasaan kekal atas semua makhluk, karena kekuasaan demikian adalah kekuasaan-Nya sebagai Allah. Jadi bagian ini harus dimengerti sebagai berbicara mengenai suatu kerajaan yang dipercayakan kepada-Nya sebagai Pengantara dan manusia-Allah. Bagian ini juga menyatakan bahwa terutama sesudah kebangkitan-Nya, ketika Ia telah memperoleh kemenangan, Ia akan duduk bersama sama Bapa di atas takhta-Nya (Why. 3:21). Pada saat itulah nubuat itu digenapi, Akulah yang telah melantik raja-Ku di Sion, gunung-Ku yang kudus (Mzm. 2:6), mendudukkan-Nya di atas takhta-Nya. Inilah yang dimaksudkan oleh ungkapan yang begitu sering disebutkan di dalam tulisan-tulisan Perjanjian Baru, yaitu tentang duduk di sebelah kanan Allah (Mrk. 16:19; Rm. 8:34; Kol. 3:1, dst.), duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa (Mrk. 14:62; Luk. 22:69), du-duk di sebelah kanan takhta Allah (Ibr. 12:2), duduk di sebelah kanan takhta Yang Mahabesar di sorga (Ibr. 8:1). Duduk di atas takhta ini berarti Ia menjalankan kuasa pengantaraan dan kerajaan-Nya, yang dilaksanakan pada saat Ia naik ke sorga (Mrk. 16:19). Hal ini dibicarakan di dalam Kitab Suci untuk meninggikan Dia sebagai upah atas kehinaan-Nya yang mendalam dan kerendahan diri-Nya dalam menjadi manusia, serta mati bagi manusia di atas kayu salib yang terkutuk itu (Flp. 2:6-12). Pada saat naik ke sorga, Dia telah diberikan kepada jemaat sebagai Kepala atas segala yang ada, diberi kuasa untuk memerintah dan melindungi jemaat terhadap semua musuhnya, dan pada akhirnya membinasakan semua musuh itu dan menyempurnakan keselamatan bagi semua orang yang percaya kepada-Nya. Kuasa ini bukanlah kuasa yang berkaitan dengan diri-Nya sebagai salah satu pribadi Allah. Ini bukanlah kuasa tidak terbatas yang dimiliki-Nya dari awal mula, melainkan kuasa yang dilimpahkan kepada-Nya dan terbatas untuk tujuan khusus. Walaupun Kristus yang memiliki kuasa itu adalah Allah, namun di dalam masa penyelenggaraan ini Ia tidak bertindak sebagai Allah tetapi sebagai Pengantara, Ia menjadi sedikit berbeda dengan Allah. Ia bertindak bukan sebagai Yang Mahabesar yang telah dirugikan, melainkan sebagai pribadi yang membela makhluk-makhluk-Nya yang bersalah. Ia melakukan hal ini atas persetujuan-Nya sendiri dan berdasarkan tugas yang diberikan kepada-Nya, dan Ia selalu bertindak dan tampil dalam sifat-sifat seperti itu. Karena itu, lebih tepat kalau dikatakan bahwa kuasa itu dikaruniakan kepada-Nya. Dapat saja Ia memerintah sebagai Allah dengan kekuasaan yang tidak terbatas, namun sekarang Ia memerintah sebagai Pengantara, dengan kuasa yang dilimpahkan kepada-Nya, dan terbatas untuk tujuan khusus ini.
(2) Bahwa kuasa kerajaan yang dilimpahkan kepada-Nya pada kesudahannya harus diserahkan kembali kepada Bapa, yang telah melimpahkan kepada-Nya (ay. 24). Sebab kuasa itu diterima untuk melaksanakan tujuan dan maksud yang khusus, yaitu kuasa untuk memerintah dan melindungi jemaat-Nya sampai semua anggota jemaat dikumpulkan dan semua musuh jemaat dikalahkan dan dihancurkan selama-lamanya (ay. 25-26). Ketika semua tujuan ini telah dicapai maka wewenang dan kuasa ini tidak perlu dilanjutkan lagi. Sang Penebus harus memerintah sampai musuh-musuh-Nya dihancurkan serta keselamatan jemaat dan umat-Nya disempurnakan. Ketika tujuan ini tercapai, maka Ia menyerahkan kembali kuasa itu, yang Ia terima hanya untuk tujuan ini, walaupun Ia akan terus memerintah jemaat dan tubuh-Nya yang telah dimuliakan di sorga. Karena itu, dalam pengertian ini dikatakan bahwa Ia akan memerintah sebagai raja sampai selama-lamanya (Why. 11:15), bahwa Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan (Luk. 1:33), bahwa kekuasaannya ialah kekuasaan yang kekal, yang tidak akan lenyap (Dan. 7:14). Lihat juga Mikha 4:7.
(3) Sang Penebus pasti akan memerintah sampai musuh terakhir umat-Nya dibinasakan, sampai maut itu sendiri dilenyapkan, sampai orang-orang kudus-Nya dihidupkan kembali dan memperoleh kehidupan yang sempurna, tidak pernah lagi merasa takut dan ada dalam bahaya maut lagi. Sebelum semua ini tercapai sempurna, Ia akan memiliki semua kuasa di sorga dan di bumi, Dia yang mengasihi kita, memberikan diri-Nya sendiri bagi kita, dan yang telah melepaskan kita dari dosa kita oleh darah-Nya. Ia yang begitu punya hubungan dekat dengan kita dan begitu peduli kepada kita. Betapa hal ini akan memberikan dukungan dan semangat bagi orang-orang kudus-Nya di setiap saat kesesakan dan pencobaan! Ia yang telah mati namun hidup, dan hidup sampai selama-lamanya akan memerintah, dan akan terus memerintah sampai penebusan umat-Nya di sempurnakan serta semua musuh-Nya dibinasakan sama sekali.
(4) Ketika semua ini selesai dilakukan, dan segala sesuatu telah ditaklukkan di bawah kaki-Nya, maka Ia sendiri sebagai Anak akan menaklukkan diri-Nya di bawah Dia, yang telah menaklukkan segala sesuatu di bawah-Nya, supaya Allah menjadi semua di dalam semua (ay. 28). Saya mengartikan hal ini bahwa pada saat itu manusia Kristus Yesus, yang telah tampil begitu mulia selama pemerintahan kerajaan-Nya akan tampil dan menyerahkan kembali kuasa kerajaan itu kepada Sang Bapa dan tunduk kepada-Nya. Banyak kali hal-hal di dalam Kitab Suci dikatakan akan terjadi ketika dinyatakan atau ditampilkan. Dan penyerahan Kerajaan ini akan menyatakan bahwa Dia yang menampakkan diri dalam kemuliaan raja yang berkuasa selama pemerintahan kerajaan ini akan menaklukkan diri-Nya di bawah Allah. Kemanusiaan yang dimuliakan dari Tuhan Yesus kita, dengan semua kemuliaan dan kuasa yang meliputinya, tidak lebih daripada seorang makhluk yang mulia. Hal ini akan tampak ketika Kerajaan itu diserahkan, dan itu akan terjadi bagi kemuliaan ilahi, supaya Allah menjadi semua di dalam semua, supaya kesempurnaan keselamatan kita dapat tampak ilahi sama sekali, dan Allah sendiri yang memperoleh kemuliaan itu. Perhatikanlah, walaupun kodrat manusiawi harus digunakan di dalam penebusan kita, namun Allah yang harus menjadi semua di dalam semua. Hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita.
III. Rasul Paulus memberikan alasan untuk mendukung ajaran kebangkitan itu dengan memakai contoh orang-orang yang dibaptis bagi orang mati (ay. 29): Jika tidak demikian, apakah faedahnya perbuatan orang-orang yang dibaptis bagi orang mati? Kalau orang mati sama sekali tidak dibangkitkan, mengapa mereka mau dibaptis bagi orang-orang yang telah meninggal? Apa yang akan mereka lakukan jika orang-orang mati itu tidak dibangkitkan? Apa yang telah mereka perbuat? Betapa sia-sianya baptisan mereka! Haruskah mereka mempertahankannya atau meninggalkannya? Mengapa mereka mau dibaptis bagi orang-orang yang telah meninggal, jika orang-orang mati itu tidak dibangkitkan? hyper tōn nekrōn. Tetapi apakah yang dimaksudkan dengan baptisan bagi orang-orang yang telah meninggal ini? Hal ini perlu untuk diketahui supaya alasan yang disampaikan oleh Rasul Paulus dapat dimengerti. Apakah alasan itu hanyalah argumentum ad hominem, atau ad rem, artinya, apakah alasan itu dipakai untuk menyelesaikan bahan perdebatan itu secara umum ataukah hanya ditujukan kepada orang-orang tertentu yang dibaptiskan bagi orang-orang yang telah meninggal. Tetapi siapa yang dapat menafsirkan ayat yang tidak jelas ini, yang walaupun hanya terdiri atas tidak lebih dari tiga kata, di samping kata sandangnya, telah ditafsirkan dengan lebih dari tiga kali tiga pengertian oleh para penerjemah? Tidak ada kesepakatan apa itu yang dimaksudkan dengan baptisan, apakah itu arti yang harfiah atau sebenarnya atau kiasan saja. Seandainya dalam pengertian harfiah, apakah yang dimaksudkan itu yang disebut baptisan Kristen ataukah upacara pembasuhan lainnya. Juga, sedikit saja ada kesepakatan siapa yang dimaksudkan dengan orang-orang yang meninggal itu, atau apa arti kata depan hyper yang digunakan itu. Beberapa orang mengartikannya sebagai kematian Juruselamat kita sendiri, (lihat definisi dalam catatan kaki Whitby). Mengapa orang dibaptiskan dalam nama seorang Juruselamat yang sudah mati, seorang Juruselamat yang berada di antara orang-orang yang mati, jika orang-orang yang meninggal tidak dibangkitkan? Namun, saya yakin yang dimaksudkan itu benar-benar bentuk tunggal dari hoi nekroi yang berarti tidak lebih dari satu orang mati. Inilah arti dari perkataan tersebut yang tidak dijumpai di bagian mana pun juga. Dan kata hoi baptizomenoi (yang dibaptis) tampak jelas berarti beberapa orang tertentu, bukan orang-orang Kristen pada umumnya, dan arti ini pasti demikian jika bentuk tunggal hoi nekroi (yang mati) dipahami sebagai Juruselamat kita. Beberapa orang mengartikan bagian ini sebagai para martir: Mengapa mereka menjadi martir demi agama mereka? Ini kadang-kadang disebut sebagai baptisan darah oleh orang-orang dahulu kala, dan yang oleh Juruselamat kita sendiri disebut sebagai baptisan (Mat. 20:22; Luk. 12:50). Tetapi dalam hal bagaimana orang-orang yang mati sebagai martir bagi agama mereka dikatakan sebagai dibaptis (artinya mati sebagai martir) untuk orang mati? Beberapa orang memahami hal ini, seperti yang dikatakan kepada kita oleh penulis-penulis kuno, sebagai kebiasaan yang dilakukan di kalangan banyak orang yang mengaku Kristen pada abad-abad pertama, di mana mereka membaptis orang atas nama dan sebagai pengganti dari pemeluk agama Kristen yang mati tanpa pernah dibaptis. Namun, bila seandainya takhayul semacam ini sudah begitu lama ada di dalam jemaat, tidak akan mungkin Rasul Paulus tidak akan menyebutnya tanpa menunjukkan rasa tidak senangnya. Ada juga yang memahami hal itu sebagai membaptis orang yang sudah mati, yang katanya merupakan suatu kebiasaan yang telah dilakukan sejak awal. Katanya ini untuk membuktikan bahwa mereka memiliki harapan akan kebangkitan. Pengertian ini berkaitan dengan penjelasan yang disampaikan oleh Rasul Paulus, tetapi tampaknya kebiasaan praktik seperti itu tidak dilakukan pada masa Rasul Paulus. Ada lagi yang memahaminya sebagai orang-orang yang dibaptis demi orang-orang yang mati sebagai martir, yaitu untuk menunjukkan kesetiakawanan dengan mereka yang telah mati untuk agama mereka. Sebagian orang dengan yakin menjadi Kristen dengan melakukan hal ini, dan alangkah sia-sianya menjadi Kristen dengan alasan seperti itu, jika karena agamanya para martir itu kehilangan hidup mereka dan menjadi binasa serta tidak hidup lagi. Namun, besar kemungkinan pada masa itu jemaat Korintus tidak mengalami banyak aniaya, juga tampaknya tidak ada banyak kejadian orang mati sebagai martir, dan juga tidak ditemukan bahwa banyak orang yang menjadi Kristen melalui kesetiaan dan keteguhan para martir. Jadi tampaknya terlalu umum untuk mengartikan ungkapan hoi nekroi hanya sebagai orang-orang yang mati sebagai martir. Ungkapan ini dapat dijelaskan secara mudah seperti ungkapan lain yang pernah saya jumpai, dan memiliki kaitan dengan penjelasan Rasul Paulus ini, yaitu bahwa hoi nekroi menunjuk pada sebagian orang di antara jemaat Korintus yang mati karena tindakan tangan Allah. Kita membaca bahwa banyak di antara mereka yang lemah dan sakit, dan tidak sedikit yang meninggal (11:30), karena tingkah laku mereka yang tidak pantas pada perjamuan Tuhan. Hukuman ini dapat saja menimbulkan kengerian bagi banyak orang sehingga mereka masuk menjadi Kristen, sama seperti kepala penjara di Filipi yang mengalami gempa bumi ajaib (Kis. 16:29-30, dst.). Orang-orang yang dibaptiskan pada saat kejadian seperti itu mungkin sesuai jika dikatakan dibaptis bagi orang mati, artinya demi kepentingan mereka sendiri. Dan kata hoi baptizomenoi (yang dibaptis) dan hoi nekroi (yang meninggal) saling menjelaskan satu sama lain. Berdasarkan anggapan ini orang-orang Korintus tidak dapat salah mengerti akan apa yang dimaksudkan oleh Rasul Paulus. “Nah,” ia berkata, “apa yang harus mereka lakukan, dan mengapa mereka mau dibaptis, jika orang-orang yang telah meninggal tidak dibangkitkan? Umumnya kamu percaya bahwa orang-orang ini telah melakukan sesuatu yang benar dan bertindak bijaksana sebagaimana seharusnya pada kejadian ini. Tetapi mengapa mereka mau melakukan hal itu jika orang-orang yang meninggal tidak dibangkitkan? Bukankah mereka malah bisa mempercepat kematian mereka karena dengan berbuat demikian mereka memancing amarah Allah yang cemburu, dan tidak memiliki harapan setelah kematian?” Namun, apakah ini yang dimaksudkan atau mungkin ada arti yang lain, tidak diragukan lagi bahwa alasan dan penjelasan Rasul Paulus itu baik dan dapat dimengerti oleh jemaat Korintus. Yang berikutnya sama jelasnya bagi kita.
IV. Rasul Paulus memberikan alasan yang melihat tidak masuk akalnya perbuatannya sendiri dan orang-orang Kristen lainnya.
1. Betapa bodohnya mereka yang setiap hari membahayakan diri (ay. 30): “Mengapakah kami setiap saat membawa diri kami ke dalam bahaya? Mengapa kami membuka diri terus-menerus kepada bahaya, kami orang-orang Kristen, khususnya kami para rasul?” Setiap orang tahu bahwa pada masa itu menjadi orang Kristen itu mengundang bahaya, terlebih lagi bagi seorang pemberita firman dan seorang rasul. “Nah,” kata Rasul Paulus, “betapa bodohnya kami menghadang bahaya ini, jika kami tidak memiliki pengharapan yang lebih baik di balik kematian, jika kami binasa sepenuhnya dan tidak hidup kembali!” Perhatikanlah, Kekristenan akan menjadi suatu pengakuan iman yang bodoh jika tidak menjanjikan harapan untuk kehidupan yang akan datang, setidaknya di dalam masa-masa berbahaya seperti yang dihadapi oleh orang-orang percaya mula-mula. Mereka harus mempertaruhkan semua berkat dan kesenangan kehidupan ini dan menghadapi serta menanggung semua kejahatan dunia ini tanpa harapan di masa depan. Dan apakah ini ciri agama yang layak untuk ditanggung oleh seorang Kristen? Tidakkah ia harus menyesuaikan ciri ini jika ia menyerahkan harapan-harapan masa depannya dan menolak kebangkitan orang mati? Alasan ini ditujukan kepada dirinya sendiri: “Aku katakan, bahwa ini benar” ia berkata, “demi kebanggaanku akan kamu di dalam Kristus, Tuhan kita, demi semua kesenangan di dalam Kekristenan serta semua pertolongan dan dukungan dari iman kita yang kudus, bahwa tiap-tiap hari aku berhadapan dengan maut,” (ay. 31). Ia terus-menerus berada dalam keadaan bahaya maut dan seperti yang biasa kita katakan, ia mempertaruhkan nyawanya. Dan mengapa ia harus membahayakan diri seperti itu, jika ia tidak memiliki harapan setelah kehidupan ini berakhir? Hidup setiap hari dalam bayang-bayang dan bahaya maut, namun tanpa memiliki harapan setelah kematian, tentunya sangat membuat orang ketakutan dan gelisah, dan dalam hal yang dihadapi Rasul Paulus itu, sungguh teramat memilukan. Ia perlu benar-benar yakin sepenuhnya akan kebangkitan orang mati, atau ia akan menjadi sangat bersalah telah membahayakan hidup orang banyak yang dikasihinya di dunia ini serta hidupnya sendiri sebagai taruhannya. Ia telah menghadapi banyak kesulitan besar dan musuh-musuh beringas. Ia telah berjuang melawan binatang buas di Efesus (ay. 32), dan ada dalam bahaya dicabik-cabik oleh orang banyak yang mengamuk, dihasut oleh Demetrius, seorang pengrajin perak, dan tukang-tukang lain (Kis. 19:24 dst.). Sebagian orang mengartikan secara harfiah bahwa Rasul Paulus harus berjuang melawan binatang buas di dalam ampiteater pada suatu pertunjukan Romawi di kota itu. Nikiforos (pujangga Kristen abad pertama – pen.) menceritakan suatu kisah resmi mengenai hal ini dan tentang mujizat indah yang terjadi pada singa-singa yang datang mendekatinya. Namun menurut saya, pencobaan dan keadaan hidupnya yang begitu luar biasa tentunya tidak akan dilewatkan begitu saja oleh Lukas, apa lagi oleh Rasul Paulus sendiri ketika ia memberikan perincian yang begitu luas dan khusus mengenai penderitaannya (2Kor. 11:24 dst.). Ketika ia menyebutkan bahwa lima kali ia disesah orang Yahudi, tiga kali didera dengan tongkat, satu kali dilempari dengan batu, tiga kali mengalami karam kapal, sangat anehlah kalau ia tidak menyebutkan bahwa ia pernah harus berjuang melawan binatang buas. Oleh karena itu, saya mengartikan bahwa yang dimaksud oleh rasul Paulus dengan berjuang melawan binatang buas ini merupakan ungkapan yang bersifat kiasan. Yang dimaksudkannya sebagai binatang buas itu adalah orang-orang yang berwatak beringas dan tidak manusiawi, dan bahwa hal ini menunjuk kepada perkataan yang telah disebutkannya. “Nah,” ia berkata, “Apakah gunanya semua perjuangan ini bagiku, jika orang mati tidak dibangkitkan? Mengapa aku harus menghadapi maut setiap hari, mengalami bahaya kehilangan nyawa oleh tangan-tangan bengis, jika orang mati tidak dibangkitkan? Dan jika post mortem nihil – jika aku binasa oleh kematian dan tidak mengharapkan sesuatu setelah kematian itu, adakah alasan yang lebih baik lagi?” Apakah Rasul Paulus begitu bodoh? Sudahkah ia memberi alasan kepada jemaat Korintus bila mereka berpikiran demikian tentang dia? Jika ia tidak sungguh-sungguh yakin bahwa kematian itu berguna baginya, maukah ia dengan cara yang bodoh ini membuang nyawanya sendiri? Dapatkah sesuatu selain pengharapan yang pasti akan kehidupan yang lebih baik setelah kematian memadamkan cinta terhadap kehidupan di dalam dirinya sampai sebegitu rupa? “Apakah gunanya hal itu bagiku, jika orang mati tidak dibangkitkan? Apa yang dapat aku janjikan kepada diriku sendiri?” Perhatikanlah, sah-sah saja dan sesuai bagi orang Kristen untuk menjanjikan keuntungan bagi dirinya sendiri atas kesetiaannya kepada Allah. Demikianlah yang dilakukan oleh Rasul Paulus. Begitu jugalah yang dilakukan sendiri oleh Juruselamat kita yang mulia (Ibr. 12:2). Dan begitu jugalah kita diminta melakukan hal yang sama sesuai dengan contoh yang diberikan-Nya, dan mengeluarkan buah kekudusan kita, supaya tujuan hidup kita adalah kehidupan yang kekal. Itulah tujuan iman kita, yaitu keselamatan jiwa kita (1Ptr. 1:9), bukan saja apa yang kita hasilkan, melainkan apa yang menjadi tujuan kita.
2. Akan jauh lebih bijaksana untuk menikmati kesenangan hidup ini: Marilah kita makan dan minum, sebab besok kita mati (ay. 32), marilah kita menjadi orang yang suka makan enak. Demikianlah yang dimaksudkan oleh Nabi Yesaya (Yes. 22:13). Bahkan marilah kita hidup seperti binatang, jika kita harus mati seperti mereka. Inilah tindakan yang lebih bijaksana jika me mang tidak ada kebangkitan, tidak ada kehidupan atau keadaan sesudah kematian, daripada meninggalkan semua kenikmatan hidup dan membiarkan diri kita mengalami semua kesengsaraan hidup ini, serta hidup dalam bahaya tak putus-putusnya sampai binasa oleh kekerasan yang penuh kebengisan dan kekejaman. Sebagaimana telah saya tunjukkan di atas, ayat-ayat ini juga dengan jelas menyiratkan bahwa orang-orang di antara jemaat Korintus yang menolak kebangkitan itu adalah orang-orang Saduki tulen. Kita mengetahui tentang pandangan-pandangan mereka di dalam tulisan-tulisan kudus, bahwa mereka mengatakan tidak ada kebangkitan, dan tidak ada malaikat atau roh (Kis. 23:8), artinya, “Manusia itu hanya tubuh semata, tidak ada di dalam dirinya yang dapat membuat tubuhnya hidup terus, dan tubuh itu akan hidup kembali begitu orang mati.” Orang-orang Saduki seperti itulah yang didebat oleh Rasul Paulus. Kalau tidak, alasan-alasan yang ia sampaikan tidak akan mempunyai kekuatan. Sebab, walaupun tubuh ini tidak pernah hidup kembali, namun, selama jiwa tetap hidup, ia akan memetik banyak keuntungan dari semua bahaya yang harus ia hadapi demi kepentingan Kristus. Bahkan, pastilah bahwa jiwa akan menjadi tempat utama dan pokok yang menerima kemuliaan dan kebahagiaan sorgawi. Namun, jika tidak ada yang dapat diharapkan setelah kematian, maka tidakkah setiap orang bijaksana akan lebih memilih kehidupan yang mudah dan nyaman daripada hidup yang begitu merana seperti yang dialami Paulus? Bahkan, orang akan berupaya untuk menikmati segala kesenangan hidup sebanyak dan sesering mungkin mengingat hidup ini hanya singkat saja? Perhatikanlah, tidak ada hal lain, selain harapan yang lebih baik sesudah kematian yang memungkinkan orang meninggalkan semua kenikmatan dan kesenangan di dunia ini, dan memilih kemiskinan, kehinaan, kesengsaraan, dan kematian. Begitu jugalah yang dilakukan oleh para rasul dan orang-orang Kristen mula-mula. Tetapi, alangkah malangnya keadaan mereka dan betapa bodohnya perbuatan mereka jika ternyata mereka menipu diri sendiri dan menyalahgunakan dunia ini dengan semua harapan yang palsu dan sia-sia!
V. Rasul Paulus menutup penjelasannya dengan peringatan, nasihat, dan teguran.
1. Suatu peringatan terhadap bahaya bergaul dengan orang-orang jahat, orang-orang yang hidup bebas dan tanpa pijakan yang baik: Janganlah kamu sesat, ia berkata, pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik (ay. 33). Mungkin sebagian dari orang-orang yang mengatakan bahwa tidak ada kebangkitan orang mati adalah orang-orang yang hidup bebas dan berusaha memenuhi perbuatan-perbuatan keji mereka dengan dasar yang sedemikian rusak. Mereka sering menyerukan, Marilah kita makan dan minum, sebab besok kita mati. Nah, Rasul Paulus yakin betul bahwa perkataan mereka ini menunjukkan bahwa setelah kematian tidak ada apa-apa lagi. Namun, setelah menyanggah dasar pandangan mereka, sekarang ia memperingatkan jemaat Korintus betapa berbahayanya perilaku hidup orang-orang semacam itu. Ia memberi tahu mereka bahwa mereka mungkin akan dirusak oleh orang-orang itu dan akan jatuh ke dalam cara hidup mereka jika mereka mengikuti prinsip-prinsip yang jahat itu. Perhatikanlah, pergaulan dan perilaku yang buruk sangat mungkin membuat orang menjadi buruk. Barangsiapa ingin menjaga kemurnian hidup mereka menjaga pergaulan yang baik. Kesalahan dan kelakuan jahat sifatnya menular. Jadi, supaya jangan tertular, kita harus menjauhi orang-orang yang berkelakuan seperti itu. Siapa yang bergaul dengan orang bijak akan menjadi bijak, tetapi siapa berteman dengan orang bebal menjadi malang (Ams. 13:20).
2. Inilah nasihat untuk menghentikan dosa-dosa mereka dan menggugah mereka untuk menjalani kehidupan yang lebih suci dan benar (ay. 34): Sadarlah kembali sebaik-baiknya atau sadarlah dengan benar, eknēpsate dikaiōs, dan jangan berbuat dosa atau jangan berbuat dosa lagi. “Sadarlah sendiri, hentikan dosa-dosamu dengan bertobat: tolaklah dan tinggalkan setiap jalan yang jahat, perbaiki apa saja yang salah, dan janganlah karena malas dan bodoh kamu terseret ke dalam pergaulan dan pandangan-pandangan seperti itu yang dapat melemahkan harapan Kekristenanmu dan merusakkan perbuatan-perbuatanmu.” Ketidakpercayaan akan kehidupan yang akan datang menghancurkan semua kebajikan dan kesaleh anmu. Yang terbaik untuk dilakukan dalam menjalankan kebenaran itu adalah berhenti berbuat dosa dan mengarahkan diri pada kegiatan ibadah, serta melakukannya dengan segala kesungguhan. Jika ada kebangkitan dan kehidupan di masa depan, kita harus hidup dan berbuat sebagaimana seharusnya orang-orang yang mempercayai hal itu. Dan janganlah mengikuti pandangan atau gagasan-gagasan bodoh dan kacau yang dapat merusak akhlak kita, karena ini membuat kita hidup bebas dan mencintai perkara-perkara jasmaniah.
3. Inilah teguran, dan tajam, yang ditujukan setidaknya kepada beberapa orang di antara mereka: Ada di antara kamu yang tidak mengenal Allah. Hal ini kukatakan, supaya kamu merasa malu. Sungguh memalukan jika orang-orang Kristen sampai tidak mengenal Allah. Agama Kristen memiliki pengetahuan yang terbaik mengenai Allah, kodrat-Nya, kasih karunia-Nya, dan pemerintahan-Nya. Orang-orang yang mengaku percaya dan memeluk agama ini akan mempermalukan diri sendiri bila terus ada dalam keadaan tidak mengenal Allah. Mereka tidak mengenal Allah adalah akibat kemalasan mereka sendiri dan sikap meremehkan Allah. Tidakkah sangat memalukan bagi seorang Kristen bila ia sampai meremehkan Allah dan sama sekali tidak peduli dengan perkara-perkara yang begitu berhubungan erat dan berharga mengenai Dia? Perhatikan juga, ketidaktahuan akan Allah itulah yang membuat orang tidak percaya akan adanya kebangkitan dan kehidupan setelah kematian. Orang-orang yang mengenal Allah tahu bahwa Ia tidak akan meninggalkan hamba-hamba-Nya yang setia, juga tidak akan membiarkan mereka mengalami kesukaran dan penderitaan semacam itu tanpa balasan dan upah. Mereka tahu bahwa Ia bukanlah pribadi yang tidak setia atau jahat, sehingga melupakan usaha dan kesabaran mereka, pelayanan mereka yang tak henti-hentinya serta sukacita mereka dalam penderitaan, atau membiarkan pekerjaan mereka menjadi sia-sia. Namun, saya cenderung berpendapat bahwa ungkapan itu memiliki arti yang lebih kuat, yaitu bahwa ada orang-orang di antara jemaat Korintus yang tidak percaya adanya Allah sehingga mereka sukar mengakui Allah, atau tidak mau mengakui bahwa ada Allah yang memperhatikan atau peduli dengan urusan-urusan manusia. Hal ini benar-benar merupakan suatu perbuatan yang menurunkan martabat dan memalukan jemaat Kristen mana pun juga. Perhatikanlah, ketidakpercayaan akan adanya Allah sebenarnya bertumpu di atas dasar ketidakpercayaan manusia akan kehidupan sesudah kematian. Orang-orang yang mengakui Allah dan pemeliharaan-Nya serta memperhatikan betapa seringnya orang-orang baik menanggung penderitaan yang buruk, pasti tidak akan merasa ragu mengenai kehidupan setelah kematian di mana segala sesuatu akan dipulihkan menjadi benar🇮🇱✅
Tidak ada komentar:
Posting Komentar