Cari Blog Ini

Minggu, 08 Maret 2026

Renungan Pagi


Santapan Harian
Wasiat Terakhir 
Yosua 23 

Jika kita adalah orang tua dan kita tahu akan segera meninggalkan dunia ini, kira-kira apa wasiat terakhir kita kepada anak-anak kita? Atau, jika kita sebagai anak, kira-kira wasiat apa yang kita harapkan? Di akhir hidupnya, Yosua pun memberikan wasiat kepada bangsa Israel. Apa wasiat terakhir Yosua kepada bangsa Israel?

Pada dasarnya wasiat terakhir Yosua dalam pasal 23 ini dapat disimpulkan dalam satu kalimat, "... kamu harus berpaut pada TUHAN, Allahmu..." (8). Sejarah bangsa Israel membuktikan bahwa godaan besar bagi mereka dalam perjalanan mengikut TUHAN adalah kecenderungan mereka untuk berpaut pada diri mereka sendiri, pada materi dan pada hal-hal yang kasat mata. Terlebih lagi setelah mereka hidup tenteram di tanah perjanjian yang berlimpah susu dan madunya itu, mereka bisa saja pada akhirnya berpaut pada semua itu dan bukan pada Allah.

Minimal ada dua kunci bagi bangsa Israel agar dapat terus berpaut pada Allah. Pertama, mengingat perbuatan Allah pada masa lampau. Itulah yang disampaikan Yosua dalam wasiatnya bahwa semua pencapaian mereka saat ini bukanlah usaha mereka sendiri, tetapi karena pertolongan, penyertaan, dan kasih setia TUHAN. Yosua berkata, "Kamu telah melihat ... Dialah yang telah berperang ..." (3); "Ingatlah ..." (4); "TUHAN telah menghalau ..." (9). Dengan mengingat perbuatan Tuhan di masa lampau, kita diharapkan sadar bahwa apa yang kita miliki dan capai saat ini semata-mata adalah karena Tuhan. Kita tidak mungkin hidup tanpa berpaut pada Tuhan.

Kedua, tidak terpengaruh oleh lingkungan yang buruk. Yosua mengingatkan mereka supaya tidak mengikuti cara hidup orang-orang yang tidak mengenal Allah di sekitar mereka (7). Mereka juga diperingatkan untuk tidak kawin-mawin dengan bangsa lain karena hal itu merupakan godaan besar untuk jatuh dalam penyembahan berhala (12).

Sudahkah Saudara berpaut pada Tuhan? Kenalilah godaan yang dapat membuat Saudara rentan berpaling dari Tuhan? Akui di hadapan-Nya dan mohon pertolongan dari Tuhan. [ABL]


SYARAT DIKATAKAN BIDAT KRISTEN

Dalam teologi Kristen, istilah bidat (heresy) digunakan untuk menyebut ajaran yang dianggap menyimpang dari ajaran pokok iman Kristen yang telah diterima oleh gereja secara umum. Kata ini berasal dari bahasa Yunani hairesis yang berarti “pilihan” atau “aliran,” tetapi dalam perkembangan teologi gereja dipakai untuk menunjuk ajaran yang menyimpang dari kebenaran iman yang diakui gereja.

Secara teologis, suatu ajaran biasanya dikatakan bidat apabila memenuhi beberapa kriteria berikut.


1. Menyangkal doktrin inti iman Kristen

Ajaran dianggap bidat jika menolak atau mengubah doktrin dasar yang menjadi fondasi iman Kristen. Beberapa doktrin inti yang dimaksud antara lain:

  • Keilahian Yesus Kristus
    Menolak bahwa Yesus adalah Allah yang menjadi manusia.

  • Doktrin Tritunggal
    Menolak bahwa Allah adalah satu hakikat dalam tiga pribadi: Bapa, Anak, dan Roh Kudus.

  • Keselamatan oleh kasih karunia
    Mengajarkan bahwa manusia diselamatkan semata-mata oleh usaha manusia tanpa anugerah Allah.

  • Kebangkitan Kristus
    Menolak kebangkitan Yesus secara nyata dari kematian.

Jika sebuah ajaran menolak salah satu dari pokok ini, gereja secara historis sering menggolongkannya sebagai bidat.


2. Bertentangan dengan ajaran Alkitab secara jelas

Dalam tradisi Kristen, Alkitab dianggap sebagai sumber utama kebenaran iman. Karena itu ajaran yang secara nyata bertentangan dengan isi Alkitab dapat dianggap menyimpang.

Contoh ayat yang sering dijadikan dasar peringatan terhadap ajaran sesat:

  • Galatia 1:8–9
    “Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga yang memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda dari yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia.”

  • 2 Petrus 2:1
    “Sebagaimana nabi-nabi palsu dahulu tampil di tengah-tengah umat Allah, demikian pula di antara kamu akan ada guru-guru palsu.”


3. Ditolak oleh konsensus gereja sepanjang sejarah

Dalam sejarah gereja, berbagai konsili gereja menegaskan ajaran iman dan menolak ajaran yang dianggap menyimpang. Misalnya:

  • Konsili Nicea (325) menolak ajaran Arianisme yang menyatakan Yesus bukan Allah sejati.
  • Konsili Chalcedon (451) menegaskan bahwa Kristus memiliki dua natur: ilahi dan manusia.

Jika suatu ajaran bertentangan dengan keputusan teologis yang telah diakui secara luas oleh gereja sepanjang sejarah, ajaran tersebut sering dikategorikan sebagai bidat.


4. Mengganti pusat iman dari Kristus kepada hal lain

Ajaran yang menggeser pusat iman dari Kristus kepada manusia, pemimpin tertentu, pengalaman mistik, atau wahyu baru sering dianggap menyimpang.

  • Mengklaim ada wahyu baru yang lebih tinggi dari Alkitab
  • Menganggap pemimpin tertentu sebagai sumber keselamatan
  • Mengajarkan jalan keselamatan di luar karya Kristus
  • 5. Membentuk ajaran yang memecah iman gereja

Bidat juga sering ditandai oleh ajaran yang menimbulkan perpecahan serius dalam tubuh gereja karena mengubah dasar iman yang telah diterima bersama.

Dalam Perjanjian Baru, Paulus menasihati jemaat:Titus 3:10“ Seorang bidat yang sudah satu dua kali kaunasihati, hendaklah engkau jauhi.”

Kesimpulan: Secara ringkas, suatu ajaran dalam kekristenan biasanya disebut bidat apabila:

  1. Menolak doktrin inti iman Kristen.
  2. Bertentangan dengan ajaran Alkitab.
  3. Tidak sejalan dengan pengakuan iman gereja sepanjang sejarah.
  4. Menggeser pusat keselamatan dari Kristus.
  5. Menghasilkan ajaran baru yang memecah iman gereja.

Namun dalam praktiknya, penilaian tentang bidat sering bergantung pada tradisi gereja, otoritas teologis, dan konteks sejarah. Karena itu, dalam studi teologi biasanya diperlukan analisis yang hati-hati sebelum suatu ajaran dinyatakan sebagai bidat✅

Statistik Pengunjung

Wikipedia

Hasil penelusuran